Skip to main content

Posts

Showing posts with the label poem

Sejenak

Sebelumnya aku tidak pernah membayangkan riuh yang bergelagar di atas altar. Pada setiap nama yang disebut menjadi rahasia Indah paling dalam. Malam berlalu di balik punggung. Rahasia malam tidak pernah berpisah, di antara kata-kata yang belum pernah tersampaikan. Biar resah menggasing di antara pundak, meresapi udara malam yang teduh, hingga gerimis gemercik melarung di antara malam mu. Dan kau tidak pernah tahu apa yang terjadi. 25.11.21

Jeruji Kata

Mari kembali lagi, Kau abadi dalam rengkuh elegi malam hari, Di simpan segala purnama pada genggam menjelang, Nuansa biru menguning di atas tanya kehendak diri, Akan hadir kedamaian dalam hati, tak ada tanya atau pun meminta, Maka ia bintang yang selalu abadi, Bersinarlah seperti kejora di hati, Tiada yang tau pasti, Namun, benarkah ia kan abadi? 12.10.21

Hari Kebebasan

Aku yakin ada hari di mana manusia bisa merasakan bebas secara penuh tanpa rasa manipulatif, sehingga dia tidak merasakan sebiji kekhawatiran tentang dirinya di kemudian hari. Ada hari di mana manusia merasakan kebebasan. Tanpa berencana, menghitung jatah-jatah kehilangan, atau sekedar mengumpulkan uang sebagai bentuk normatif bahwa kita adalah manusia terkini, bukan pengangguran. Hari itu akan hadir pada sela-sela ketakutan,namun setelah itu dia timbul menjadi perasaan penuh, mencintai sekelilingnya dan merasakan empati, simpati tiada batas. Hari itu ialah sehari sebelum kiamat. Di mana berita-berita akan selalu meneror hari-hari, tentang bencana yang akan dihadapi pada hari kiamat besok. Ilmuwan mencari cara bagaimana menunda kiamat, pemeran agamawan-agamawan mengutuk bumi tentang azab-azab perlakuan manusia, berita gosip sibuk meliput persiapan selebritis-selebritis dalam menghadapi kiamat, ada yang sudah punya doom anti kiamat, ada yang menangis sesegukan, ada yang sibuk membuat su...

langit abu-abu

Ingin ku miliki langit cerah merekah, namun terangkum langit abu-abu. Ku hinggap tak sampai, rahimnya bersedih dengan cinta segala masa. Tapi tetap ku gapai dalam cinta sedu sedang. 15.06.21

Aku di tengah Samudera

Aku di tengah samudera luas di antara lautan bintang di atasnya, Menerka dan meraba cahaya di setiap horizon, Mencoba membayangkanmu di antara dua mataku yang tidak pernah bisa menembus ke dalam matamu, Waktu hanya mencoba merangkum hidup serta udara yang ku hirup di tengah samudera masih sama, Setiap vena, nadi, dan darah yang berdenyut adalah jelaga saat kau nampakkan senyum saat pertama kali, Aku hidup, tubuhku berucap. Masih di sini, di tengah samudera tanpa ombak lautan hanyalah hamparan air yang tidak bernafas, Serta udara hanyalah sebuah tiupan yang hanya mencoba mengibas rambutku, Tidak ada lagi bahasa-bahasa dan kejorahanyalah aksesoris mata tanpa ada sosok pundakmu, Sedang aku berusaha berlayar di tengah kegamamangan, Di antara samudera hati mu yang tidak tentu. Aku masih berlayar, dan masih berlayar 13.04.21

Dahan

Di sepanjang jalan bernaung buih kapas awan berlarian. Menyanggahi tatapan mata yang mulai nanar, Meski dihirup angin barat masih terasa, Tapi hirup naik turun tidak melegakan, Pada setiap burung yang hinggap kujanjikan sebuah tali kehangatan, Namun ia tak bertaut hanya singgah tak peduli, Kiranya bahu ialah dahan yang layu, Sebab tak terasa kehidupan dalam pijakan bahu itu, Ia tak paham telah dinyanyikan lagu-lagu yang menerpa sayapmu saat berteduh, Kini bahu itu menjadi kering kerontang, Menjadi dahan yang ditinggal kepakan sang burung, Memandang awan bercinta dalam larian di atas langit, Dahan telah hilang ditikam lumut, berselimut lumpur,  Menjadi kokoh namun tak pernah bersapa nona burung kembali. 17.02.21

Nyanyian Malam

Kembali kita berkata walau bukan derma rasa, Disebuah tempat terpaku jiwa dalam jeruji, Maka tak pernah selesai nasib manusia, Terus mengukur dan menyanyi dalam elegi-elegi, Dilantunkan pada embun-embun dini, Berharap segera langit menurunkan bulir basahnya, Agar dihirup patrichor di dalam udara yang dingin, dingin... Di dalam pintu rumah kaca ini, bisa disaksikan bagaimana dirimu bernaung tanpa memghirup udara dini, Sedang embun membangunkan dirimu sekajap pada sadar yang tak kau anggap. Lalu kau kembali terlelap, Serta nyanyian masih menjadi udara dingin yang begitu beku, kemudian jiwanya hilang tanpa tersentuh. 16.02.21

Api yang tak pernah kau pahami

Tidak ada ruang dalam semesta ini, Menyimpan rembulan lalu mati, Di kolong langit, meja, hingga rumah tanpa atap. Lalu, Api padam dalam bentuk jelaga. Ku hirup dalam-dalam pada sebuah kemegahan rasa. Tidak ada api di dunia ini, hilang. Sekujup tubuh menjadi kikuk hingga jantung tanpa degup. Aku tampakkan embun pada dini. Agar tak perlu kau basuh untuk kau sucikan. Sebab segala dada yang pernah kau belah sudah menjadi lilin-lilin api kecil yang menyucikanmu. Maka pelanlah, untuk hidup. Pelanlah... Sebab yang mensucikan engkau tiap hari adalah aku yang menjelma menjadi percik lilin itu. Tanpa Api yang kau pahami. 15.02.21

Terimakasih, 2021

Hari ini, tepat hari ini.. Ada yang kembali datang membawa angin dari segala penjuru mata angin tepat di tengkuk leherku. Ia kembali membawa sapa, senyum dan semangat lain. Ia memberikan segores pelangi dalam catatan lusuh ini. Meski dalam ruang rupa rasa berbeda. Ini menjadi sebuah wahana hidup tersendiri, yang pergi menolak datang hingga ucap kata kembali hadir. Biarkan datang menjadi selendang, lalu ku bawa menjadi kawan. Pecinta hanyalah cinta, yang ia bawa demi semesta. Tanpa harap, bekal dan tumpuan. Sebab cintanya menjadi arang, abu, angin dan pelangi dalam setiap langkah hidupnya. Warna persahabatan yang kekal abadi pada diri. Sebab mawar harus tetap dijaga sebagai pengingat tuannya. Akulah sang kerbau pengingat. Terimakasih 2021, Semoga mawar tetap harum dan selalu mekar pada jalan hidup yang tak tentu nasib. Kembali terima kasih. 04.01.21

Dunia yang tak sama

Pada malam ku letakkan segelas kata, Tiap bait-baitnya adalah sepoi nyiur di tepi muara, Saat rasaku tak kembali sama, begitu cepatnya dunia. Sedangku masih terpaku fana, Melihat dunia yang tak lagi sama, Aku kembali meratap pada setiap jejak-jejak kemarin, Tidak ada hal yang menetap, semua berlalu dalam sekejap, Pada saat ini aku masih saja terdiam, Oase diri harus mengembang, meski pasir hisap terus menelan, Apalah waktu kini hanya mengaburkan segala yang ada di depan? Sekarang hanyalah ambisi, dalam kepahitan kepengahan dada. 11.07.20

Tak Perlu Melintas

Bagaimana kalau begini saja, Kau tak perlu tersenyum atau menyapa bila sekadar lintas di depanku. Urusan rindu memang sakti, saat kupikirkan dirimu sebelum kau melintas, kau sudah berputar dalam gelanggang pikiran ini yang tak tahu batas. Perihal cinta pun sakti, Di mana ku tafsirkan segala jalan selalu angin saat kau melintas menjadi bayangan dalam setiap langkah. Maka diam lah tak perlu bergerak, biar saja cinta yang melayani dirimu oleh seribu keinginan ku yang menghamba bagai budak untukmu. 12.02.20

Melihat, Menjadi

Di perjalanan pulang, aku bertemu kejora bercahaya redup. Di persimpangan stasiun Palmerah, Bundaran Senayan, Jalan Sudirman, Melihat Ayam lalu aku adalah Ayam, Melihat kucing aku menjadi kucing, Kemudian ku berkaca, Tak ada yang terlihat hanya sepoian angin menjadi dingin berputar-putar, kadang terlihat cahaya kecil-kecil. Masih di persimpangan, aku berjalan. 07.01.20

Khuldi Terakhir

Di dalam hatiku terdapat Sang Kekasih yang telah ku lupa karena rupa. Aku ingin sekali sebab-sebab yang bermuara pada Kekasih. Meski tak disangkal, ada dunia dalam pikiran yang membutakan. Adakah saja ku temukan satu dari sekian, meski siapa pun engkau akan ku temukan sisa gigitan Kuldi Adam di dalam matamu, untuk terakhir kalinya.

Doaku Pada Kekasih

Dari tiap malam yang ku sebut atau segala racau mulut ini bertutur. Adakah sekejap saja hinggap Tuhan melulur hati? Jauhkan dari segala penat atau memoar yang terancam pudar. Aku sesekali menggoes romantisnya malam di Mredo tak kutemukan gemerlap cahaya, Tapi hamparan bintang bercucur tak kusadari sedalam jua. Kini malam yang kurindukan berbalik senyap sunyi hanya atap dan awan-awan mendung. Mungkin sesekali ditaburi sinar matahari yang tiada tara. Pada Wajah-Mu sekali saja akan kuabadikan dalam palung terdalam. Jauhkan lah dari segala risau yang berdarah baik luka atau bukan. 23.10.2019

Er Is Liefde in Buitenzorg

Di antara dedaunan rindang nan indah pada langit Bogor, Adakah jejak yang tak pasti tentang manusia di dalamnya? Perasaan yang tiba-tiba saja tenggelam persis pertama tatapan Tuhan turun dari mendungnya bias-bias hujan. Di perjalanan itu aku menjadi sunyi dengan khitmat meratap kicau merdu dari tiap tetes tatapmu, Apakah ia yang mengantarkan ke pintu gerbang? Di mana perhentian sudah berada di tapal keberangkatan, Di atas rel di mana kulihat lampu-lampu berjalan dengan cepat. Di sana masih tersimpan lengkap sesisir bayangmu. Maka sudah tepat kubilang waktu adalah penjahat ulung yang menciptakan sekat antara ruang-ruang mimpi yang sudah ku siapkan dengan sigap. Di tempat itu seharusnya kata menjadi cantik dan kepulangan menjadi musik harmonis yang kunikmati Namun masih saja kelu meski tak berharap akan menjadi sesuatu Hanya saja tak ingin menjadi hilang dalam tatap sekajap Terima kasih hari ini atas segala rasa-rasa dan pelengkap hari. Pengantar buku baru dalam bab...

Keinginan Sesuatu di Dalam Benak

Di dunia ini berencana merupa kepastian, Beradu direbutnya padahal fana dituainya, Seperti daku yang selalu berangan memeluk seribu bulan di atas malam, Yang merupamu, yang merupamu Pada kepastian-kepastian bertuan kucuri saja pada lamunan, Namun semua berakhir pada kata-kata penyesalan seperti, Seharusnya. 27.09.19

Bunga Semu

Bagaimana bila ia yang terperangkap dalam ilusi, Menjadi perlahan berdiri dari ramainya rasa sepi, Di dalam imaji terdapat sonata-sonata semu, Biarkan ia tak tahu bahwa semua yang dirasa hanyalah palsu, Sebab hidup perlulah sandaran agar yang terlepas kembali terikat meski tulang rusuk rapuh di tapal batas waktu, Buai angin menjelma malam kembali dalam selimut kehangatan, Berhenti bertiup hingga sadarnya menjadi kalutan bunga tidur dalam sambut. 26.09.19

Menjelma Angin Tuk Kau Kibaskan Kembali

Dalam sepikat ruang yang menjelma menjadi tawar di ubun-ubun ku Menguap imaji tentang suatu perpisahan rasa antara satu jiwa dan kekasihnya Nelangsa dibuatnya, masih saja tak bekutik di hadapan angin senyap tiada sapa dari mata angin manapun Bisakah tuk kali ini dibuat damai meresap atau perlahan-lahan mengikhlaskan kepergian bayang-bayangmu? Sebab penantian berdiri selamanya Pada fatamorgana ku terbuai, mencoba menggapai tapi masih saja tiada pekat yang hilang jika dirimu seorang penantian yang tertinggal nan tak berkalung cawan indah Adakah sekali saja? Masa menjadi gemilang tuk kusibakkan dalam alunan hidup sementara? Pasti kurawat dalam-dalam sampai gelap menemukan sinarnya. 08/09/2019

Elegi Malam

Bila saja malam ini insan tenggelam dalam lautan samudera, maka akan habis diminumnya. Tapi satu saja kebodohan menimpanya, maka terkuburlah ia bersama peluh keringat dan angin yang dihirupnya. Maka pelankan alur langkah kaki sebelum waktu berhenti, kemudian menyudahi tutur dari liur yang menghakimi. Inilah hidup, jangan berhenti. Sebab juang kasih masih mengemban, percayalah masih ada waktu untuk berhenti, duduk lalu bersiul tenang menjadi angin malam.

Ia yang Ku Pandang

Ketika tumbuh di muara berselimut kabut, Lahirlah bening-bening bayang yang tersingkap dalam raut wajahmu, Muliakah bila? Ku tawarkan gelapnya malam secepat itu? Tanpa bintang gemintang seperti cantiknya bibir tipismu, Ku letakkan sepasang fajar di bola mata saja, Biar bening-bening kabut mu meraba, Pada saatnya luruh dan menetap biarkan ia tetap menjadi palung jelaga cinta yang fana. HSA 19.08.19