PARA PERASUK (2026) Dir: Wregas Bhanuteja Retak Jagad Alit di Panggung Sambetan: Rekonsiliasi Batin, Alienasi Sosial, dan Batas Kosmologis dalam Para Perasuk (2026) “Kalau situ belum baekan sama masa lalu, bagaimana bisa bahagia?” ucap Guru Asri usai menginterogasi Bayu di tengah keramaian. Bayu terengah, mengakui segalanya dengan penuh rasa sedih, kesal, dan patah hati. Potongan dialog ini mempertegas sebuah perenungan mendasar: “Apakah seorang penghibur harus merupakan pribadi yang bahagia dan damai hatinya agar pesan kebahagiaan yang disampaikan dapat dirasakan secara jujur oleh penonton?” Sosok Bayu bertindak sebagai kacamata utama yang menggerakkan narasi film Para Perasuk . Ditempatkan oleh Wregas Bhanuteja dalam kerangka penyutradaraannya, dinamika karakter Bayu menggambarkan bagaimana pergulatan psikologis dan emosional seorang individu berkelindan dengan dinamika sosial di sekitarnya. Dalam kacamata kosmologi kebudayaan Jawa, hubungan ini tercermin melalui konsep jagad a...
Ingatan Film: My Girl-Fan Chan (2003) Sutradara: Vitcha GojiewSongyos Sugmakanan, Nithiwat Tharathorn, Witthaya Thongyooyong, Anusorn (Adisorn) Trisirikasem, Komgrit Triwimol Jika benar kata Sujiwo Tejo bahwa menikah adalah urusan nasib dan mencintai adalah ketetapan takdir yang tak bisa dipesan, maka film Fan Chan (2003) adalah monumen paling syahdu yang merekam bagaimana takdir itu pertama kali dilahirkan. Lewat tatapan polos Noi Naa dan Jeab, kita tidak sedang menonton sepasang anak manusia yang sedang bermain di bawah terik matahari masa kecil, melainkan sedang menyaksikan bagaimana semesta menjatuhkan takdir mencintai dalam wujudnya yang paling murni. Film ini menjadi sebuah retrospeksi melankolis bagi setiap hati yang terpaksa melangkah menuju nasib kedewasaan, sembari tetap meninggalkan sepotong takdir cinta pertamanya terkunci rapat di masa lalu. Genre romantis, terutama yang mengusung tema cinta pertama, tidak pernah benar-benar berniat menjebak kita dalam lab...