Ingatan Film: My Girl-Fan Chan (2003)
Sutradara: Vitcha GojiewSongyos Sugmakanan, Nithiwat Tharathorn, Witthaya Thongyooyong, Anusorn (Adisorn) Trisirikasem, Komgrit Triwimol
Jika benar kata Sujiwo Tejo bahwa menikah adalah urusan nasib dan mencintai adalah ketetapan takdir yang tak bisa dipesan, maka film Fan Chan (2003) adalah monumen paling syahdu yang merekam bagaimana takdir itu pertama kali dilahirkan. Lewat tatapan polos Noi Naa dan Jeab, kita tidak sedang menonton sepasang anak manusia yang sedang bermain di bawah terik matahari masa kecil, melainkan sedang menyaksikan bagaimana semesta menjatuhkan takdir mencintai dalam wujudnya yang paling murni. Film ini menjadi sebuah retrospeksi melankolis bagi setiap hati yang terpaksa melangkah menuju nasib kedewasaan, sembari tetap meninggalkan sepotong takdir cinta pertamanya terkunci rapat di masa lalu.
Genre romantis, terutama yang mengusung tema cinta pertama, tidak pernah benar-benar berniat menjebak kita dalam labirin melankolia yang destruktif. Melalui kacamata Psikoanalisis Lacanian, sinema cinta pertama bertindak sebagai The Mirror Stage atau tahap cermin. Ini merupakan sebuah cermin besar tempat penonton berdiri untuk merefleksikan bayangan masa lalunya sendiri. Kita tidak diundang untuk meratapi waktu yang hilang atau mengutuk takdir dengan penyesalan, melainkan diajak melakukan ritual katarsis. Kisah Noi Naa dan Jeab pada akhirnya bertransformasi menjadi ruang kontemplasi yang hangat. Ini adalah sebuah bahan perenungan bahwa segetir apa pun akhir dari cinta pertama, ia adalah semen yang memperkokoh fondasi kedewasaan kita hari ini.
Kisahnya berdenyut pada ingatan Jeab, seorang pria dewasa yang mendadak terlempar kembali ke masa kecilnya yang riuh setelah menerima sebuah undangan pernikahan dari masa lalu. Ingatan itu membawa kita ke sebuah kota kecil di Thailand pada dekade delapan puluhan, tempat Jeab kecil menghabiskan hari-harinya bersama Noi Naa, anak perempuan berambut kuncir dua yang menjadi sahabat terdekatnya. Jeab yang terjebak di antara dunia bermain anak perempuan dan ambisinya untuk diterima oleh kelompok anak laki-laki mulai menghadapi konflik ego kekanak-kanakannya. Narasi film ini kemudian berfokus pada dinamika dilematis tersebut, menyoroti bagaimana pilihan-pilihan kecil seorang anak dapat menguji ketulusan sebuah ikatan. Tanpa perlu mengumbar akhir cerita secara gamblang, film ini sejak awal sudah meletakkan fondasinya pada ketegangan emosional tentang sebuah pertemuan yang berharga dan bagaimana waktu perlahan mengubah segalanya.
Afeksi yang saya rasakan ketika menyaksikan film klasik ini membangkitkan kembali memori masa kecil. Fan Chan tidak menonjolkan narasi romansa yang berlebihan, melainkan membawa saya menyelami dunia kenangan yang begitu romantis, romantis dalam arti nostalgia terhadap masa kecil. Kisah Noi Naa, Jeab, dan teman-temannya digambarkan secara jujur dan apa adanya, berbeda dari film cinta pertama pada umumnya. Kita diajak larut dalam dunia anak-anak yang berpusat pada permainan. Pemahaman akan kehidupan, bahkan adegan perselisihan antar-anak, disajikan secara alami sesuai dengan dinamika seusia mereka.
Secara penceritaan, film ini sebenarnya dibuka dengan formula yang cukup klise (meski saya menyadari bahwa Fan Chan mungkin merupakan salah satu pelopor untuk kiasan tersebut karena rilis lebih awal). Jeab dewasa menerima undangan pernikahan dari sahabat masa kecilnya. Namun, alur selanjutnya berkembang secara tidak terduga. Sejak awal hingga akhir, kita disuguhkan kisah masa lalu Jeab tanpa alur kilas balik berulang ke masa kini, dan Jeab dewasa tidak harus menuntaskan urusan "romansa cinta pertama"-nya tersebut.
Hal yang paling beresonansi dan melekat dalam sanubari adalah bagaimana nuansa nostalgia dihadirkan melalui sapuan visual full shot dan long shot. Lensa kamera seakan-akan membingkai sebuah lukisan hidup yang memantik keheningan dan gumam kontemplatif, "Ah, betapa elok masa itu; betapa tak disangka ingatan kita berpijar pada ritme yang sama." Kedekatan kultural ini bukan sekadar kebetulan geografis, melainkan bersandar pada teritori psikologis yang lebih dalam, apa yang oleh Carl Jung diistilahkan sebagai ketidaksadaran kolektif (collective unconscious) dan arketipe. Permainan-permainan masa kecil seperti lompat karet atau sepak bola mini dengan batas sandal bukanlah sekadar warisan tradisi yang diturunkan secara linier, melainkan manifestasi dari struktur mental universal yang diwarisi bersama oleh umat manusia. Ada memori purba yang melintasi batas bangsa dan bahasa, sebuah pengetahuan universal (universal knowledge) yang tanpa perlu diajarkan secara akademis, berhasil merajut pengalaman emosional yang senada di berbagai belahan dunia.
Sebagai penutup, karya ini menyerupai wine: kian dimakan usia, kian menguapkan semerbak romansa. Ia menjadi sebuah napak tilas berharga yang mengajak generasi milenial merawat ingatan sekaligus menakar ulang hakikat menjadi manusia. Sebagaimana gagasan filsafat romantisme bahwa keindahan sejati seringkali bersinggungan dengan elegi memori, sebuah penjelajahan akan rasa yang hidup dari jejak yang telah silam, film ini akan senantiasa elok untuk disimak kembali setiap beberapa waktu nanti. Pada akhirnya, Fan Chan adalah alasan saya percaya setiap dari kita memiliki ketulusan ingatan masa kecil yang unik, tentang tawa, canda, riuh hingga romansa.
#ingatanfilm
Comments
Post a Comment