Skip to main content

Posts

Showing posts with the label opini

Ingatan Film: Record of Youth (2020)

Ingatan Film: Record of Youth Dir Ahn Gil-ho Drama seri Korea kembali menjadi pilihan saya minggu ini. Setelah sekian lama tidak mau mencicipi drama seri karena bikin malas tidur dan kelopak mata hitam. Record of Youth salah satu yang mbikin menarik diri saya, karena dibahas terus di twiter. Nah, Drama seri ini bercerita tentang perjalanan karir seorang aktor di Korea Selatan. Di dalamnya terdapat persahabatan, keluarga dan cinta seperti kebanyakan tema drama korea. Tokoh utama di sini yaitu Hyun-Jun dan Hyun Han.  Film ini menjadi gambaran singkat bagaimana seseorang menjadi bintang, penuh lika-liku dan intrik politik. Tapi tidak kalah juga drama ini menggunakan formula polaris tentang kaya dan miskin. Hal yang paling mencolok di sini ialah karakter tokoh utamanya yang ajaib. Dia begitu semmpurna tanpa cela seorang yang tegar bahkan lebih bijak dari keluarganya. Begitu juga termasuk tokoh-tokoh pembantu, dia terus stagnan dengan sifatnya dari episode awal sampai akhir. Akirnya say...

Apakah itu Hidup?

Hidup apakah hanya meromantisasi masa? Menghitung kumulatif angka-angka kebahagiaan? Ada yang bilang hidup itu tanpa makna, makanya kita mencicil rumah, menggapai pendidikan mentereng, posisi pekerjaan tinggi dan lain-lain, agar merasa hidup kita bermakna. Kalau saja hidup manusia di bumi ini ibarat adam seorang. Untuk apakah benda-benda tersebut? Bukankah hal di atas demi pengakuan orang lain, serta kepuasaan, kekuasaan diri atas segala hal? Sedangkan manusia selalu saja mengembara pada umur, segera menjadi sempurna hingga uzur. Di tengah jalan atau sepanjang perjalanan manusia hanya melakukan konsumsi,konsumsi dan konsumsi. Mungkin tidak? Ya apapun itu tahap kita satu, yaitu kebahagiaan dunia, jika bisa ya akherat. Aku harus belajar dengan orang-orang ateis bagaimana ia menjalani hidup dengan kepastian kepastian logika. Sehingga ia memiliki perjalanan tanpa perlu Tuhan di dalamnya. Tapi sekali lagi, aku cuma salut dan itu sangat menantang. Sebab logika hanyalah sekumpulan fragmen kem...

Saya dan Jakarta II

Dari cerita kemarin saya sempat merasa putus asa untuk tinggal lama di kota ini. Tugas kuliah memaksa saya untuk tetap bertahan beberapa bulan kedepan. Saya sudah acap kali bosan dengan suasana macet di sini yang tak tentu waktu dan tempat. Saat saya berkendara motor di jalanan sudah tidak asing dengan klakson yang berdering dimana-mana, padahal jalanan macet, tapi semua orang seperti dikejar setan. Buru-buru ke tempat kerjaan dan melupakan orang sekitar, toh mugkin orang sekitarpun tidak memikirkan satu sama lain juga.  Banyak “binatang” di jalanan jika kita menyenggolnya tanpa sengaja maupun sengaja. Angkot yang berhenti di tengah jalan padahal ada rambu dilarang stop, dan parahnya lagi ada salah satu aparat tidak jauh dari situ hanya mengayun-ngayunkan tangan, hmm saya berpikir positif memang sedang memperbolehkan angkot mangkal. Ah, kembali lagi saya rasa memang kota ini bukan untuk merasakan romantismenya, tapi hanya untuk dikeruk nilai-nilai materialnya. Baru saj...

Saya dan Jakarta I

Sudah hampir tiga minggu saya menjadi “warga” urban Jakarta. Banyak pengalaman sudah terekam dalam ingatan. Selama ini saya hidup di Jogjakarta tidak ada masalah dengan hiruk pikuknya aktivitas masyarakat kota, khususnya kendaraan bermesin. Selain untuk menimba ilmu dengan status magang di start-up pendidikan terbesar di Indonesia, saya juga menimba ilmu di jalanan. Sudah banyak sekali pelajaran yang saya terima dari indera ini. Sebenarnya saya sudah merencanakan menaiki kereta api saja untuk mencapai tempat kerja, namun setelah saban hari mencoba, anggaran yang dikeluarkan cukup cekak bagi anak kost seperti saya. Jadi saya berpergian dengan tidak tentu, kadang menggunakan kereta api, kadang juga menaiki sepeda motor. Jakarta, banyak orang mengatakan kota ini adalah seribu harapan bagi yang ingin mapan. Mapan dalam bentuk materialisme semata, tapi itulah kenyataannya, baik dari pedagang asongan sampai konglomerat. Memang kota ini begitu memberi sercecah gengsi do...

Mimpi Wisuda

Sebenarnya saya malas untuk mengetik karena saya bukan penulis apalagi pintar berandai-andai, kalaupun iya pasti saya bisa menyelesaikan proposal skripsi dengan tuntas tanpa masalah tapi kenyataannya? Bisa kalian tebak sendiri. Saya mengetik ini sebab tadi siang saya tidur lalu mengalami mimpi aneh, entah mimpinya begitu hampir nyata. Jadi disini saya tidak usahlah menceritakan bagaimana saya bisa tertidur, intinya saya tidur..                 Dalam mimpi, saya berada di kost sudah bersiap-siap keluar kost untuk pergi ke kampus dengan menggunakan sepeda. Aku ingat persis, bahwa saya harus memberikan bunga pada entah siapa, kalau tidak salah ada acara wisuda. Dengan semangat 45, bergowes rialah saya di pagi yang cerah.                 Sebelumnya mungkin saya akan mendeskripsikan kampus tempat belajar saya. Kampus saya itu cukup lua...

Pasar Dadakan

“Tahu bulat digoreng dadakan lima ratusan..gurih-gurih enyooyy!" Begitulah suara yang sering saya dengar setiap hari. Saya pikir Tukang tahu bulat yang sudah berevolusi ini hanya ada di Yogyakarta, tempat saya menimba ilmu. Tapi ternyata sudah menyebar di seluruh daerah. Jingle yang sangat sederhana dan terkesan polos mampu menyihir setiap masyarakat yang mendengarnya mulai dari kelas bawah sampai kelas kreatif. Nah, mungkin kalian juga ga asing dan selalu terngiang-ngiang dengan jingle andalannya ya kan? Tapi disini saya gak akan bahas bagaimana sejarahnya Tukang tahu bulat bermobil pickup terbuka ini bisa sangat fenomenal. Justru hal yang menarik ada di dalam lirik berupa kata “Dadakan”. Terkesan biasa-biasa aja, tapi saya seperti merasakan sesuatu yang harus ditelisik. Apalagi meme di Iatas juga cukup mengganggu pikiran saya.   Menurut KBBI Arti dari dadakan adalah: [da.dak.an] Nomina (kata benda) sesuatu yang dilakukan secara tiba-tiba. Nah saya langsung aja ma...