Skip to main content

Apakah itu Hidup?


Hidup apakah hanya meromantisasi masa? Menghitung kumulatif angka-angka kebahagiaan?

Ada yang bilang hidup itu tanpa makna, makanya kita mencicil rumah, menggapai pendidikan mentereng, posisi pekerjaan tinggi dan lain-lain, agar merasa hidup kita bermakna.

Kalau saja hidup manusia di bumi ini ibarat adam seorang. Untuk apakah benda-benda tersebut? Bukankah hal di atas demi pengakuan orang lain, serta kepuasaan, kekuasaan diri atas segala hal?


Sedangkan manusia selalu saja mengembara pada umur, segera menjadi sempurna hingga uzur. Di tengah jalan atau sepanjang perjalanan manusia hanya melakukan konsumsi,konsumsi dan konsumsi. Mungkin tidak? Ya apapun itu tahap kita satu, yaitu kebahagiaan dunia, jika bisa ya akherat.


Aku harus belajar dengan orang-orang ateis bagaimana ia menjalani hidup dengan kepastian kepastian logika. Sehingga ia memiliki perjalanan tanpa perlu Tuhan di dalamnya. Tapi sekali lagi, aku cuma salut dan itu sangat menantang.

Sebab logika hanyalah sekumpulan fragmen kemungkinan yang diyakini banyak orang yaa beberapa bisa dibuktikan secara material. 


Aku masih merasakan bahwa hidup ialah berpegangan dengan logika, menumpukkan rasa kekecewaan. Realita hanyalah berebut kesenangan dan saling melempar kekecewaan. Pada akhirnya dalam menebus makna manusia harus merasakan konsekuensinya yaitu kesepian tanpa batas.


Hal ini adalah kutukan bagi yang percaya Tuhan. Ada yang bilang memang ini kutukan ada yang bilang ini hal natural manusia secara psikologis, ada yang bilang ya itu umur-umur saat ini memang kita membutuhkan orang lain.


30-09-2020

Comments

Popular posts from this blog

Bagaimana Jika?

"BAGAIMANA JIKA?" Dari sekian banyak kata, istilah, dan elemen yang membentuk kalimat, makna, rasa, emosi, serta menjadi penghubung dari satu semesta (diri) ke semesta lain. Mungkin aku tak bisa merangkai kalimat yang lebih baik dari apa yang sedang terpikirkan, tapi kuharap kamu mengerti. Ada satu kata magis, menjelma udara malam yang menemani banyak aktivitas dengan tatapan kosong: termenung. Frasa ini menyelinap tanpa permisi ke setiap khayal, lalu membiarkan kita membangun berbagai skenario di dalamnya. Frasa "Bagaimana Jika?" selalu banyak kuterakan dalam pola komunikasi dan khayalku, seolah menggantikan tubuh ini melayang di antara jutaan bintang-bintang. Bagi orang kota, "Bagaimana Jika?" adalah sihir pengusir waktu—saat di dalam kereta, atau sekadar menuntaskan hajat di kamar mandi. Bagi para peneliti, frasa ini menjadi kelinci percobaan dalam menemukan tabir dunia yang belum terungkap, yang kemudian mereka abadikan dalam nama penemuan-...

Ingatan Buku: Psikologi Uang (Housel)

Ingatan Buku: Psikologi Uang (Saduran FF) Oleh: Morgan Housel Di dunia ini penggerak kehidupan aktivitas msnusia tak lepas dari uang. Uang menjadi pondasi segala lini kehidupan bahkan sampai sela sela kehidupan rumah tangga. Uang mungkin menjadi "Agama" baru pada dunia post-mo ini. Uang bisa menjadi nilai kelas pada manusia-manusia, bisa sebagai kadar menilai pria dan wanita. Sangat sensitif, bisa merubah perilaku, bisa mempengaruhi kondisi hati. Tapi perihal mengelola uang? Beda lagi. Mau secerdas apapun teori tentang mengelola uang, tidak ada hubungan dengan perilaku mengelolanya. Zaman sekarang kepintaran tidak bisa dinilai akan kebajikan alias tingkah laku manusia. Ngelmu iku kelakone kanthi laku, kalau kata filosofi Jawa, di mana ilmu seharusnya diirungi dengan perilakunya. Namun, kini mencari ilmu harus melesat tahu tanpa harus mengilhami. Ekonomi industri menjadi medan pacunya. Jadi teori dan konsep ideap tentang kelola uang akibat perilaku jadi tidak bisa ...

Ingatan Buku: Childfree and Happy (Victoria)

Ingatan Buku: Childfree and Happy Oleh Victoria Tunggono Di jagat maya sedang trend isu yang masih diperbincangkan pro kontranya di Indonesia. Apalagi di Twitter, banyak hilir mudik opini-opini tentang konsep hidup childfree atau childless. Kenapa bisa ramai diperbincangkan? Karena konsep hidup childfree berupaya untuk hidup sepanjang umur tanpa memiliki anak kandung. Seyogyanya fade kehidupan umum harusnya memiliki anak, tetapi childfree memiliki pendapat lain soal anak. Buku ini membuat saya mengenal lebih dalam secara personal konsep hidup childfree dari kacamata penulis. Uniknya penulis di sini sudah memiliki anak, meski dari pernikahan masa lalunya. Ia meyakini childfree ketika menikah lagi. Satu poin yang pertama saya dengar pertama kali tentang konsep hidup satu ini, Egois. Bagaimana seorang perempuan yang memiliki rahim tidak mau memiliki anak dengan banyak alasan yang menurut saya bisa ditolerir. Seperti, takut badannya berubah, takut anak-anak, malas mengurus anak...