Skip to main content

Posts

Showing posts with the label puisi

Jalan Ruang Cinta

Di sela malam bergelombang rindu, Bolehkah gelap menyisir sisa-sisa cahaya? Kembali memeluk hangat dalam peluk-Mu, Bersukacita dalam air mata bahagia. Menjadi udara yang dihirup, Menyelami kerinduan tanpa batas, Menghidupkan yang mati—pada hidup yang tak hidup, Berada dalam cinta tanpa ujung. 02.05.25

Basah Membasuh

Basah membasuh punggung semalaman, Taman bunga di tepi, ilalang berserak tinggi menjulang, Air hujan pun turun dari fajar hingga jingga menyikap cahaya, Taman bunga rahasia hati, Redup pula sebab badai gemuruh semalam, Hingga upaya jua tak kunjung sinar, Hanya ikhlas dari setangkai bunga yang terbawa air dari tatapmu, Menarilah, di antara malam, Sudah waktunya kita merayakan, Keikhlasan dari suara-suara, Untuk menjadi jalan sunyi yang baru di antara kemerlap bintang, Disibak segala keindahan tentang tatapmu kembali, Seperti lampu taman seharusnya di taman hati yang lebih indah dari dua insan berbahasa cinta, Serta merayakan jiwa-jiwa yang bersuaka. 15.07.22

Menuju Matamu

Aku ingin mengudara bersamamu, Menjadi sebelah sayap yang mengepak di antara hembusan angin. Percayalah—aku ingin melaju, Menuju matahari yang kau tuju. Kita sama: Namun ranum cinta di benak ini Telah pekat—gelap—menyergap. Tapi ku lebur segala resah, Sebab mata cintamu meluruhkan gelisah. Untuk kesekian kalinya, Pinjamkanlah tatapanmu, Agar jiwaku terbang sekali saja—bersama langkahmu. 02.02.22

Jeruji Kata

Mari kembali lagi, Kau abadi dalam rengkuh elegi malam hari, Di simpan segala purnama pada genggam menjelang, Nuansa biru menguning di atas tanya kehendak diri, Akan hadir kedamaian dalam hati, tak ada tanya atau pun meminta, Maka ia bintang yang selalu abadi, Bersinarlah seperti kejora di hati, Tiada yang tau pasti, Namun, benarkah ia kan abadi? 12.10.21

langit abu-abu

Ingin ku miliki langit cerah merekah, namun terangkum langit abu-abu. Ku hinggap tak sampai, rahimnya bersedih dengan cinta segala masa. Tapi tetap ku gapai dalam cinta sedu sedang. 15.06.21

Aku di tengah Samudera

Aku di tengah samudera luas di antara lautan bintang di atasnya, Menerka dan meraba cahaya di setiap horizon, Mencoba membayangkanmu di antara dua mataku yang tidak pernah bisa menembus ke dalam matamu, Waktu hanya mencoba merangkum hidup serta udara yang ku hirup di tengah samudera masih sama, Setiap vena, nadi, dan darah yang berdenyut adalah jelaga saat kau nampakkan senyum saat pertama kali, Aku hidup, tubuhku berucap. Masih di sini, di tengah samudera tanpa ombak lautan hanyalah hamparan air yang tidak bernafas, Serta udara hanyalah sebuah tiupan yang hanya mencoba mengibas rambutku, Tidak ada lagi bahasa-bahasa dan kejorahanyalah aksesoris mata tanpa ada sosok pundakmu, Sedang aku berusaha berlayar di tengah kegamamangan, Di antara samudera hati mu yang tidak tentu. Aku masih berlayar, dan masih berlayar 13.04.21

Puisi

Sedang iramanya mengalun, Udara subuh jelang fajar masih mengaduk, Selimut matamu menutup dan menghangatkan diri. Teringat masa-masa itu, saat kita masih berdua bertatap candu. Meski sedetik kita berpapas, beranak pinak senyum mu dalam benak, Kemudian matamu masih melahirkan puisi-puisi. 08.04.21

Menjadi Pejalan

Aku mengembara menjadi pejalan, Tak pernah sepotong bintang kulihat pada langit di dalam perjalanan. Aku tidak tahu jadi apa kehidupan lautan, juga padang pasir, atau buaian senja pada pantai itu. Di perjalanan aku tidak menemukan apa-apa. Sungguh, aku tak menumukan apapun di dalam perjalanan. Jika muasal dalam semua penemuan adanya pada dirimu, Kekasih. 06-04-21

Pesona

Di kurung letak sisi hatimu, Terbaca, terurai sampai diriku, Sejak saat kau menanamkan senyum, Dari segala bentuk rupamu, Aku mengingat taman puspa saat itu, Pada masa kecilku, Sambil gemercik hujan membasuh dada, Tak ada nestapa, hanya kibaran. Dirimu, dirimu adalah diriku. 21.02.21

Dahan

Di sepanjang jalan bernaung buih kapas awan berlarian. Menyanggahi tatapan mata yang mulai nanar, Meski dihirup angin barat masih terasa, Tapi hirup naik turun tidak melegakan, Pada setiap burung yang hinggap kujanjikan sebuah tali kehangatan, Namun ia tak bertaut hanya singgah tak peduli, Kiranya bahu ialah dahan yang layu, Sebab tak terasa kehidupan dalam pijakan bahu itu, Ia tak paham telah dinyanyikan lagu-lagu yang menerpa sayapmu saat berteduh, Kini bahu itu menjadi kering kerontang, Menjadi dahan yang ditinggal kepakan sang burung, Memandang awan bercinta dalam larian di atas langit, Dahan telah hilang ditikam lumut, berselimut lumpur,  Menjadi kokoh namun tak pernah bersapa nona burung kembali. 17.02.21

Nyanyian Malam

Kembali kita berkata walau bukan derma rasa, Disebuah tempat terpaku jiwa dalam jeruji, Maka tak pernah selesai nasib manusia, Terus mengukur dan menyanyi dalam elegi-elegi, Dilantunkan pada embun-embun dini, Berharap segera langit menurunkan bulir basahnya, Agar dihirup patrichor di dalam udara yang dingin, dingin... Di dalam pintu rumah kaca ini, bisa disaksikan bagaimana dirimu bernaung tanpa memghirup udara dini, Sedang embun membangunkan dirimu sekajap pada sadar yang tak kau anggap. Lalu kau kembali terlelap, Serta nyanyian masih menjadi udara dingin yang begitu beku, kemudian jiwanya hilang tanpa tersentuh. 16.02.21

Air dan Api

Bagaimana pula aku membayangkannya? Cerita-cerita tentang anak manusia, Bagian diriku adalah api yang berkobar dihembus angin barat, Tenang, ku tenang sebab hujan datang tak sengaja, Meliputi juga dirimu yang menjadikannya basah, Taman depan rumah menjadi segar serta hati tenang, Sekarang tinggal bagaimana api mengaku air? Agar rasa bukan menjadi penghubung, Sebab kau adalah api sekaligus hujan, dan aku juga sama. Maka kau adalah aku. Kemudian aku mencintai diriku, sebab kau telah menjadi aku. 14.02.21 My Valentine

Kebebasan

Tahukah engkau kebebasan itu seperti apa? Apakah terdiri dari asap-asap langit yang mengitari dunia? Apakah seperti Qais yang berkhilwat di gua? Apakah seperti hidup di anak 18an? Jika masih saja bertepi dalam lamunan, Masihkah kebebasan itu terbuka lebar? Dalam bayang, menatap pelaut menembus lembayung kemudian tenggelam di dalamnya. Kebebasan itu yang meramu menjadi kepulangan. Sedang dalam cinta kebebasan menjadi sebuah dilema. Antara belenggu, resah dan mabuk dalam minuman segelas anggur. Di sebuah titik, kebebasan hanyalah hiburan bagi pecinta yang tak tahu arah pulang. Izinkanlah untuk segala cinta menjadi sebuah oase dan perayaan kepulangan. Dari pejalan cinta tak tahu arah pulang. 14.02.21

Nasib Pria Romantika

Malam ini tiada luas sanubari menabur cinta, Tanganku seirama menggenggam butir-butir pasir kesesakkan, Pada suatu jalan yang lurus ditempah lubang-lubang tak berkesudahan, Aku masih saja menyeret, memaksa, berjalan kaki. Pria romantika balutan kepahitan, Disusur segala jelaga riuh, angin barat menyembiru menunggu badai berjalan di tempat. Saat kasih datang menjelma rindu tak tahu pilu, Maka cinta hanyalah bualan roma-roma kesakitan manusia, Aku masih belum tahu cara tuk mengobati, Pada cinta sejati melihat dirimu sendiri, Apakah ia yang datang dan pergi? Atau ia yang menetap tapi menjauhi? Nasib menjadi pria romantika, Dibawanya keabadian dalam punggung, menjajakannya setiap waktu. Sebab wanita terkasih, hanya memberi keabadian pada ia yang mampu menghadirkan bunga mawar dalam diri. 30.08.2020

Kerinduan Pecinta

Untuk kembali terbawa. Para pecinta meramu rindu pada dini hari. Terbangun dalam lelapnya, sebab tak kuasa bertemu dengan Sang Maha Cinta.  Direbah pertemuan dua mata melalui sajadah. Keledai tak pernah paham bagaimana pecinta tak perlu rupa, Ia hanya butuh dirinya untuk Sang Pecinta. Layaknya Majnun bersama gerombolan serigala bersenandung cinta demi Layla seorang. 25.08.20

Sunyi

Hidup adalah riuh. Menjadi gemuruh di udara dan tak tersisa. Hanya bising tak nampak hanya berbekas asap-asap hitam. Dunia adalah oase di lautan gurun semesta, sejak Tuhan meramu dan mencipta, hanya sunyi yang benar-benar abadi. Sebab semesta adalah lautan sunyi. Selamat menjadi sunyi-sunyi di kehidupan tantra.

Dunia yang tak sama

Pada malam ku letakkan segelas kata, Tiap bait-baitnya adalah sepoi nyiur di tepi muara, Saat rasaku tak kembali sama, begitu cepatnya dunia. Sedangku masih terpaku fana, Melihat dunia yang tak lagi sama, Aku kembali meratap pada setiap jejak-jejak kemarin, Tidak ada hal yang menetap, semua berlalu dalam sekejap, Pada saat ini aku masih saja terdiam, Oase diri harus mengembang, meski pasir hisap terus menelan, Apalah waktu kini hanya mengaburkan segala yang ada di depan? Sekarang hanyalah ambisi, dalam kepahitan kepengahan dada. 11.07.20

Burung yang telah pergi

Di atas kepalaku burung-burung berkicau sedangkan diriku menikmati bunyi siul burung berkicau. Pada suatu masa yang sama, burung-burung lekas terbang menuju matahari. Sedang ku tertinggal, masih memumut sisa-sisa kicau dalam gempulan memori. Masihkah cahaya memanggil burung-burung lainnya tuk segera kembali? 21-06-20

Untuk-Nya

Jangan bercanda, mana mungkin membicarakan dirimu di media narsis ini? Segala tentangmu itu bukanlah untukmu, namun untuk-Nya. Tapi di dalam dirimu aku menemukan-Nya. Bagaimana terbentuknya luas samudera dalam tetes insan melalui dirimu, segala keindahan di dalam dirimu kemudian ku takzim kepada-Nya.