Skip to main content

Ingatan Buku: Childfree and Happy (Victoria)


Ingatan Buku: Childfree and Happy
Oleh Victoria Tunggono

Di jagat maya sedang trend isu yang masih diperbincangkan pro kontranya di Indonesia.
Apalagi di Twitter, banyak hilir mudik opini-opini tentang konsep hidup childfree atau childless.

Kenapa bisa ramai diperbincangkan? Karena konsep hidup childfree berupaya untuk hidup sepanjang umur tanpa memiliki anak kandung. Seyogyanya fade kehidupan umum harusnya memiliki anak, tetapi childfree memiliki pendapat lain soal anak.

Buku ini membuat saya mengenal lebih dalam secara personal konsep hidup childfree dari kacamata penulis. Uniknya penulis di sini sudah memiliki anak, meski dari pernikahan masa lalunya. Ia meyakini childfree ketika menikah lagi.

Satu poin yang pertama saya dengar pertama kali tentang konsep hidup satu ini, Egois. Bagaimana seorang perempuan yang memiliki rahim tidak mau memiliki anak dengan banyak alasan yang menurut saya bisa ditolerir. Seperti, takut badannya berubah, takut anak-anak, malas mengurus anak, sampai ia masih memiliki mimpi tersendiri. Intinya alasannya benar-benar personal. 

Setelah membaca buku ini, saya memahami betul bagaimana kehidupan manusia itu memang unik-unik. Childfree memang sebuah takdir Tuhan yang bergerak memang adanya begitu. Penganut childfree rata-rata memiliki pengalaman pahit di masa lalu (biasanya orang tua) makanya mereka tidak mau memberikan beban yang sama untuk anak kandungnya. Alasan lain yang menurut saya masuk akal ialah, populasi manusia sudah banyak, jika semakin bertambah maka akan lebih banyak kesulitan dan perlombaan di dunia yang semakin kecil ini. Yup, anti-natalisme, tidak mau mempunyai anak karena kehidupan zaman sekarang sedang mengalami krisis, belum lagi ekonomi yang makin mencekik, terlebih penganut Childfree lebih suka mengasuh anak di luar kandung, seperti sepupu sodaranya, anak didik, atau anak yatim piatu, nah itu bukan lebih mulia bukan? Ada juga karena memiliki beragam faktor psikologis seperti Aro-Ace. Aromantic tidak memiliki ketertarikan oleh hubungan romantis dan Asexual tidak memiliki ketertarikan dalam hubungan seksual.

Oh iya penganut childfree dan childless itu beda ya. Kalo childfree itu memang konsep hidup yang dipilih untuk tidak memiliki anak, sedangkan childless terpaksa tidak memiliki anak karena faktor di luar keyakinan hidup, seperti penyakit dll.

Menafsirkan dalam satu buku ini, orang-orang childfree lahir akibat orang-orang normal yang memiliki anak sebuah nilai umum (mayoritas saja disebutnya). Kebanyakan malah orang-orang yang memiliki anak aslinya tidak memiliki kesiapan mental dalam mengurusi anak.

Anak menjadi sebuah aksesoris hidup untuk mengusir kesepian, investasi, atau sekadar mengikuti orang-orang tanpa ada persiapan yang matang dalam memiliki anak. Itu bukankah sikap Egois yang sama seperti orang-orang childfree? 

Orang childfree sudah berpikir sebelumnya matang-matang tentang keputusan yang ia ambil. Berbeda dengan orang mayoritas yang hanya mengikuti alur kehidupan masyarakat saja (tidak semuanya).

Kesimpulan dari saya, childfree memang berakar dari masa lalu yang pahit rata-rata, sehingga membuat orang bersikap childfree. Menurut saya, hidup memiliki keturunan memang sebuah alur kehidupan yang mesti dilewati, makanya perempuan memiliki rahim untuk dibuahi. Tapi sekali lagi, kasih sayang Allah sangat besar. Konsep hidup childfree membuat manusia memilih untuk memberikan kasih sayang ke orang lain yang dibutuhkan.

Coba bayangin, kalo ga ada Childfree di dunia ini pasti sangat buanyakk manusia, semakin banyak kompetisi, dan semakin buanyakk kriminalitas. Jadi, jika memang keputusan kalian adalah chidfree ya tidak apa-apa tapi benar-benar harus yakin dan setia atas pilihannya, karena kalo setengah-setengah kasian diri kalian, akan merasakan lebih teralienasi. Begitu juga yang mayoritas, baik ya kalau punya anak harusnya sudah siap mental dan materi dalam membesarkannya, dan cukup cinta yang diberikan. Sebab, di zaman sekarang ini banyaks sekali anak-anak broken home karena orang tuanya pun saat berumah tangga masih mengalami krisis eksistensial yang parah. Anak jadi korban, kan kasian mereka.

Kalau pendapat dari saya, tetaplah buat anak tapi persiapkan saja dulu segala bentuk sikap, materi dan cintanya. Jika belum siap, ya nikmatilah masa-masa berdua, jangan terlalu terburu-buru punya anak. Kalau siap, barulah beranak pinak. Pun kalo masih tidak siap dan childfree bisa jadi keputusan, ya silahkan diambil. Ya mau ga mau bagi saya childfree menjadi langkah terakhir untuk tetap bisa mencintai diri sendiri melalui orang lain~
Jadi, Allah baik kan?
Jangan berantem, toh kalian punya misi tersendiri dalam hidup yang main actionnya 1, berlomba dalam kebaikan bukan nyingir. Mari berbuat baik terhadap sesama~
Terimakasih.

Comments

Popular posts from this blog

Bagaimana Jika?

"BAGAIMANA JIKA?" Dari sekian banyak kata, istilah, dan elemen yang membentuk kalimat, makna, rasa, emosi, serta menjadi penghubung dari satu semesta (diri) ke semesta lain. Mungkin aku tak bisa merangkai kalimat yang lebih baik dari apa yang sedang terpikirkan, tapi kuharap kamu mengerti. Ada satu kata magis, menjelma udara malam yang menemani banyak aktivitas dengan tatapan kosong: termenung. Frasa ini menyelinap tanpa permisi ke setiap khayal, lalu membiarkan kita membangun berbagai skenario di dalamnya. Frasa "Bagaimana Jika?" selalu banyak kuterakan dalam pola komunikasi dan khayalku, seolah menggantikan tubuh ini melayang di antara jutaan bintang-bintang. Bagi orang kota, "Bagaimana Jika?" adalah sihir pengusir waktu—saat di dalam kereta, atau sekadar menuntaskan hajat di kamar mandi. Bagi para peneliti, frasa ini menjadi kelinci percobaan dalam menemukan tabir dunia yang belum terungkap, yang kemudian mereka abadikan dalam nama penemuan-...

Ingatan Buku: Psikologi Uang (Housel)

Ingatan Buku: Psikologi Uang (Saduran FF) Oleh: Morgan Housel Di dunia ini penggerak kehidupan aktivitas msnusia tak lepas dari uang. Uang menjadi pondasi segala lini kehidupan bahkan sampai sela sela kehidupan rumah tangga. Uang mungkin menjadi "Agama" baru pada dunia post-mo ini. Uang bisa menjadi nilai kelas pada manusia-manusia, bisa sebagai kadar menilai pria dan wanita. Sangat sensitif, bisa merubah perilaku, bisa mempengaruhi kondisi hati. Tapi perihal mengelola uang? Beda lagi. Mau secerdas apapun teori tentang mengelola uang, tidak ada hubungan dengan perilaku mengelolanya. Zaman sekarang kepintaran tidak bisa dinilai akan kebajikan alias tingkah laku manusia. Ngelmu iku kelakone kanthi laku, kalau kata filosofi Jawa, di mana ilmu seharusnya diirungi dengan perilakunya. Namun, kini mencari ilmu harus melesat tahu tanpa harus mengilhami. Ekonomi industri menjadi medan pacunya. Jadi teori dan konsep ideap tentang kelola uang akibat perilaku jadi tidak bisa ...