Ingatan Film: Odyssey (2026)
Ingatan Film: Odyssey
Dir. Nolan
Akhirnya baca film juga, meskipun sudah gagap membaca dunia film. Apapun itu. Saat ini hanyalah kacamata saya sebagai penikmat film.
Film Nolan terbaru ini penuh dengan bintang, sejak pertama saya melihat beritanya, cukup antusias apalagi film yang saya suka sebelumnya (Intenstellar) mampu membuat saya merinding ketika keluar bioskop.
Menurut saya kekuatan beliau memang ada di gaya naratifnya. Baik dari alur mozaik sampai maju mundur, menurut saya beliau sangat mahir membuat penontonnya ga berhenti mengedipkan mata dari scene ke scene.
Saat trailernya keluar, boom! Banyak kritik dari penggemar atau penonton — setidaknya dari kawan, atau netizen yang lewat beranda saya.
Bahwa pertukaran race para tokoh, khawatir nya mengubah sensasi kenikmatan menontonnya — woke film.
Tapi ketika saya menontonnya, tidak mengganggu sama sekali meskipun ada alasan-alasan tertentu pada cerita di dalamnya, atas perbelokan race dari imajinasi kita semua. Ya, saya tidak terganggu atas itu semua. Karena semua berjalan logis. Oh ya sebagai catatan, ketika menonton saya tidak membawa ekspetasi apa-apa atau mempersiapkan diri untuk menontonnya, seperti membaca sejarah Odyssey secara literal, atau sekaliber konten YouTube "Hal apa saja yang harus dipahami sebelum nonton Odyssey." Wow.
Menurut saya, baiknya kita bersihkan dulu menonton film ini, tanpa perlu mempersiapkan apapun.
Agar respon dan pemahaman ketika nonton. berjalan secara alami dan menikmati bagaimana realitas Odyssey ini bisa sampai ke kita.
Satu lagi, kalau bisa nontonnya IMAX ya karena audionya tak tik bum werr~
Sayangnya gw duduk di bangku paling depan sehingga mesti ngangguk-ngangguk ketika nonton, antara nonton visual atau subtitlenya. Jangan coba lagi dahh~
Oh ya review filmnya, ya seperti mendengar nyanyian nyanyian epos prajurit Odyssey ketika menyerang kota Troy. Kita terpaku, antar sequence seperti penggalan lirik.
Narasinya menjuntai di mata. Di dalamnya cerita tentang dosa, tidak ada manusia hitam putih, semuanya abu-abu.
*Pantes kata narsum raditya dika, kalo gen z lebih suka karya orang zaman milenial atau semakin vintage, karena isinya banyak semangat, positifnya. Sedangkan karya saat ini semua bentuk isinya kepahitan, dan kegelapan. Khususnya linimasa, yang isinya selalu kekerasan, politik kotor, dan kebodohan.
Nyanyian Epos/10
Comments
Post a Comment