Oleh FF
Pada bagian kecil ini saya memahami begitu luar biasanya pemikiran berbagai bidang yang dipikirkan dan dipahami oleh seorang Plato. Selain menyukai dengan konsep dunia Idea nya, saya sedikit takjub dengan konsep kebahagiaan menurut beliau.
Kunci kebahagiaan itu terdapat pada rasio dan jiwa yang sehat. Jiwa itu bukan "apa" dan "siapa" sebab jiwa adalah supir dan tandanya adalah badan, gerak tubuh, ekspresi atau sesuatu material yang terdapat terintegral oleh tubuh manusia.
Jiwa ini yang membuat refleksi kebahagiaan terpancarkan, namun harus dikendalikan oleh logistikon (akal).
Ada 4 gerbong kebahagiaan menurut Plato yang tiap bagiannya selayaknya kereta bersayap. Sayapnya ini akan mencapai pada nilai religius atau menuju Tuhan. Empat tersebut ada Ephitomia, Thumos, Logistikon dan Eros.
Ephitomia berada pada tahapan terendah di mana ini merupakan kebutuhan pemenuhan jasmani/material seperti makan, minum, seks. Manusia yang hanya fokus di sini hidupnya tidak optimal dan tidak mencapai hakikatnya. Banyak juga manusia yang berusaha menghilangkan unsur ini agar mampu ke tahap penyucian. Menurut Plato mengatasi Ephitomia itu natural saja, jika lapar ya makan tapi harus dikontrol yang menimbulkan sikap kesederhanaan. Kontrol ini pakai apa? Ya pakai rasio, akal agar sesuatu yang natural itu menjadi pas. Ephitomia ini berdiri dari perut ke bawah.
Thumos berada di atas perut sampai leher. Tingkatkan selanjutnya ini berfokus pada ambisi, pasion, kejayaan dan kesejahteraan. Manusia ini biasanya lebih militan, ia sudah tidak penting lagi makan asal demi kebahagiaan (maksudnya bukan pengorbanan, tapi saking sudah bisa mengendalikan). Cth seperti tentara yang cinta tanah air, orang yang mencintai Agama, aktivitas apapun itu. Nah akal juga harus menjadi pengontrol agar menimbulkan sikap optimal keberanian.
Logistikon berada di atas leher yaitu otak/pikiran. Inilah jika sudah mencapai keduanya maka rasio menjadi asupan baik bagi pengontrol jiwa dan optimalisasi manusia. Optimalisasi ini disebut Artete, sikap optimal dari keadaan fungsinya. Orang yang fokus pada pengetahuan akan menghasilkan gerbang tentang kesederhanaan, keberanian, adil dan kebijaksanaan.
Terakhir eros, ini adalah hasrat yang sebenarnya ada di ketiga-tiganya. Eris menjadi sebuah keinginan untuk tumbuh dan berkembang. Bila diperandaian kereta tadi, ia merupakan saya menuju Tuhan. Opini saya ini merupakan sikap selanjutnya saat manusia mulai melakukan semua deki tujuan kebaikan dan Ketuhanan.
Manusia yang sudah bahagia ini kuncinya ada dua pada akhirnya. Dapat mengontrol dan mengarahkan. Mengontrol berarti menyetir Ephitomia dan Thumos. Mengarahkan secara tidak langsung/langsung dapat menerangi jiwa-jiwa lainnya untuk menjadi terang.
Manusia yang merasakan kebahagiaan sempurna harus juga menuju Daimon, karena intelektualitas dan aktivitasnya sudah memancarkan keilahian.
Terimakasih
Comments
Post a Comment