Umi Wo Kakeru (The Man From The Sea) - (2019)
Dir: Koji Fukada
SEMIOTIKA LAUT, IDENTITAS, HEGEMONI BAHASA, MONOPOLI DAN DRAMA MANIS
Film drama fantasi atau mungkin bisa disebut sebagai in house production, dengan kerjasama Indonesia dan Jepang membuat film ini seperti sebuah obat dari masa lalu untuk membentuk sejarah yang baru.
Bercerita tentang Laut orang Jepang yang terdampar di Aceh sekaligus sebuah nama yang diberikan oleh keluarga Jepang yang lama tinggal di Indonesia (ada hubungannya dengan Tsunami Aceh 2004). Takako, Takashi dan Sachiko (keponakan Takashi) menerima orang terdampat yang bernama laut. Ada juga dua orang Indonesia Kris dan Tami yang kenal dekat dengan Takashi sekaligus sembari meliput kejadian-kejadian bersama Laut.
Naratif yang lambat tapi penonton diajak untuk masuk ke dalam absurd-an fantasi Laut. Karakterisasi masing-masing pemain terasa pas, apalagi Adipati Dolken, keliatan bukan lagi main FTV indo. Sutradara manteplah, oh ya film ini menjadi sebuah identitas Jepang dalam menyelami cita rasa "kekhasan" Film Jepang, meski latar di Indonesia (Individualistik, Tenang, Obyektif, dan Sepi) boleh ditengok dari setiap pengambilan sinematografi yang Jepang bangetlahh~
Laut, tokoh karakter yang sy intrepretasikan sebuah kelahiran dari "Laut" yang asli. Ia melambangkan sebuah arti laut secara harfiah. Laut menurut simbol kuno bahkan di Jepang memiliki dewi/a laut yang berarti Ibu atau pemberi kehidupan, sedangkan laki-laki dilambangkan oleh Api/matahari (Itulah kenapa pada budaya Shinto di Jepang selalu menggambarkan cahaya sumber kekuatan, ga percaya? Ultraman, kamen rider merupakan bentuk menifestasi penghormatan matahari di dalam industri Jepang). Yup pada menit pertama sudah disuguh kan Laut yang keluar dari "Laut" melambangkan sebuah kelahiran, bahkan sepanjang film berjalan Laut merupakan karakter yang menggambarkan kehidupan itu sendiri, bagaimana ia menjadi polos, diam, tidak bisa bicara, sampai akhirnya kembali ke "Laut".
Takashi merupakan orang Jepang yang sedari kecil sudah di Indonesia. Meskipun akting Takashi dalam berbahasa kayak turis yang baru bisa bahasa Indonesia tapi yaa okeelahh. Manusia butuh identitas, untuk masuk dalam sebuah masyarakat. Di sini cara Takashi dalam berbudaya, mirip sekali sprti orang Indonesia, makan dengan tangan dan duduk ala warteg. Tapi ia selalu dibedakan dan sedikit di tolak dalam sosial di Indonesia sebab wajahnya tidak Indonesia, dan jika menjadi orang Jepang, bahkan ia tidak tahu tentang budaya mengungkapkan cinta ke perempuan di Jepang, semua informasi hanya didapat dari Ibunya. Ia tidak merasa orang Jepang. Ini menandakan jika manusia zaman sekarang bersifat positivistik, prejudice dalam mengenal sebuah fenomena, padahal dalam mengenal manusia tidak bisa disamakan oleh hewan, atau tumbuhan yang bisa dilihat berdasarkan satu sisi, sebab ada sisi lain yang bisa terungkap.
Lucunya obrolan antar Sachiko dan Kris menggunakan bahasa Inggris, padahal di film ini tidak ada satupun orang Inggris. Ini membuktikan bahasa menjadi penting dalam hegemonisasi kebudayaan global, mereka mempercayai jika barat masih menjadi budaya yang mapan. Kira-kira, aku membayangkan mereka berbicara berdua tapi seperti ada pihak ke tiga.
Film ini juga disisipi oleh sebuah monopoli jurnalis senior ke junior. Penjajahan bukan terjadi pada orang asing, bisa juga terjadi pada kaum sendiri, sebab penjajahan merupakan ketamakan dan kekuasaan. Duh lagi males mikir berat jadinya... Harusnya bisa lebih panjang..
Dan film ini di selesaikan oleh drama manis, dan ada sebuah "kematian" yang mereka tidak pahami.
Sekian, terimakasih.
Thanks for sharing,..
ReplyDelete