Dari ufuk timur terbit lah mentari,
Di wanginya embun abu-abu dia membisikkan,
Kata cinta yang belum pernah tersampaikan,
Perlahan membawa diriku kembali ke masa silam,
Saat kita berlari menuju matahari tenggelam,
Cinta menjadikannya air yang membasuh dalam cerminan sukmaku,
Adakah hari lain untuk hari ini?
Kita berada dalam peraduan cinta tanpa batas.
Kebahagiaan besar dalam hati,
Tapi, ada suatu masa ku melihat matamu berlinang air mata,
di ujung tangan, aku basuh air lembut dalam kesucian.
Adakah malam ini habis? meski baru saja rembulan bersinar?
Aku berada dalam pejalanan panjang menuju horizon gelapnya lautan,
Menjemput bintang yang kita tuju pada suatu malam,
Serta kerinduan yang menyerbak dalam cakrawala langitu kebiruan,
dan aku masih dalam perjalanan untuk memeluknya.
18.01.2022
"BAGAIMANA JIKA?" Dari sekian banyak kata, istilah, dan elemen yang membentuk kalimat, makna, rasa, emosi, serta menjadi penghubung dari satu semesta (diri) ke semesta lain. Mungkin aku tak bisa merangkai kalimat yang lebih baik dari apa yang sedang terpikirkan, tapi kuharap kamu mengerti. Ada satu kata magis, menjelma udara malam yang menemani banyak aktivitas dengan tatapan kosong: termenung. Frasa ini menyelinap tanpa permisi ke setiap khayal, lalu membiarkan kita membangun berbagai skenario di dalamnya. Frasa "Bagaimana Jika?" selalu banyak kuterakan dalam pola komunikasi dan khayalku, seolah menggantikan tubuh ini melayang di antara jutaan bintang-bintang. Bagi orang kota, "Bagaimana Jika?" adalah sihir pengusir waktu—saat di dalam kereta, atau sekadar menuntaskan hajat di kamar mandi. Bagi para peneliti, frasa ini menjadi kelinci percobaan dalam menemukan tabir dunia yang belum terungkap, yang kemudian mereka abadikan dalam nama penemuan-...
Comments
Post a Comment