Skip to main content

Posts

Ingatan Filsafat: Insan Kamil 2 (Ibnu Arabi)

Ingatan Filsafat: Insan Kamil 2 (Ibnu Arabi) Oleh: FF Sekian lama WFH membuat banyak godaan untuk lanjut belajar dan membaca (pada dasarnya saya pemalas). Membahas tentang Insan Kamil namun ini merupakan versi Ibnu Arabi, saya juga tidak paham apa yang membuat ini terjadi perbedaan namun dengan filosofi yang sama pada Insan Kamil versi Iqbal. Oh iya ini versi lebih tuanya, sebab duluan ini daripada Iqbal. Perbedaan yang paling kentara ialah tentang eksistensialisme Ibnu Arabi yang memang kental akan kebebasan atas nafsu dan pelepasan atribut akan duniawi, sedangkan Iqbal seperti ingatan saya sebelumnya. Justru kebebasan atas dunia ini Insan Kamil harus mengurusi dunia juga, jadi imbang. Btw Iqbal juga terpengaruh oleh Nietzsche jadi kaya bersi Syariah.  Namun saya tidak akan membahas kenapa berbeda, justru menurut saya perbedaan ini yang menjadikan kaya. Lagi pula pada intinya itu sama. Insan Kamil di sini seperti manusia ialah sebagai khilafah, tahapan teratas dalam fa...

Ingatan Film: 7 Kogustaki Mucize (Miracle in cell no. 7)

Ingatan Film: 7 Kogustaki Mucize (Miracle in cell no. 7) Dir: Mehmet Ada Öztekin Miracle in cell no.7 merupakan salah satu film korea tersedih sepanjang masa (menurut gw). Humanisme yang ditonjolkan dalam film versi Korea-nya begitu terlihat khas. Kesuksesan tersebut membuat beberapa negara mengadaptasi film tersebut ke beragam spektrum budaya lain yang khas. Di Indonesia sendiri film ini masih dalam tahap pengerjaan, mungkin tertunda gara-gara pandemi. Maka gw melihat terlebih dahulu versi Turki yang sudah tayang di Netflix. Mengambil premis yang sama dengan film asalnya yaitu seorang Ayah yang memiliki keistimewaan tersendiri. Ia memiliki anak yang menjadi poin kekentalan drama humanis. Gw selalu memiliki stereotip film Timur selalu berhubungan dengan cerita sedih keluarga dll, termasuk di film ini (ya pasti gw uda persiapkan diri kalo ini emang film sedih). Dari struktur penulisan skenario dari protasis sampai katartasis tidak memiliki hambatan. Memang di awal sedik...

Ingatan Filsafat: Raushan Fikr (Ali Shariati)

Ingatan Filsafat: Raushan Fikr (Ali Shariati) Oleh: FF Melanjutkan pembahasan tentang manusia ideal atau di Islam sebagai manusia sempurna disebut Khalifah. Pada proses menuju ke sana, kemarin sudah membahas tentang manusia insan kamil, sekarang ingatan masuk ke dalam pemikiran Ali Shariati yang sama kentalnya bernuansa eksistensialisme, yaitu Raushan Fikr. Pada dasarnya terdapat kesamaan-kesamaan pondasi berangkat dari manusia. Manusia ideal itu terdiri dari kebajikan, keindahan, dan kebenaran. Hal ini berkaitan tentang hubungan sikap manusia atas seni, etika, dan pengetahuan. Ini berdampak pada sudut pandang hidup manusia atas kesadarannya di mana kesadaran-kesadaran ini pondasinya berasal dari peradaban dan kebudayaan. Perbedaannya adalah Peradaban merupakan suatu perilaku, kebudayaan merupakan sebuah cara pandang masyarakat yang me-hegemoni. Kenapa menjadi dasar? Pola kita hidup bagaimana rasa sakit, senang, bahagia, sedih, kecewa muncul ada hubungan dengan intensitas r...

Ingatan Film: Itaewon Class (Series)

Ingatan Film: Itaewon Class (Series) Dir: Kim Sung-yoon Yak yak maraton series lagi bikin mata berkunang-kunang, ga ada kapok-kapoknya. Drama seri ini berpusat pada Park Sae-roy, seorang anak muda yang memiliki dendam kesumat kepada perusahaan Jangga khususnya Presdir Jang. Karena kasus kematian ayahnya telah dimanipulasikan akibat ulah anaknya Presdir Jang. Intinya ini film berfokus pada dendam dan berkembangnya kepribadian seorang Park Sae-Roy. Namun dari sudut pandang ke tiga yaitu Jo-Yi Sou, seorang sosiopat yang jadi manajer di kedai Park Sae-Roy. Oke ga mau panjang lebar soal sinopsis yang panjang. Saya ingin ngomongin banyak hal, poin plus dan minusnya. Episode pertama dalam sebuah drama seri merupakan sajian yang harus diperhatikan (wajib!! Kudu!! Mesti!!). Nah saya standing applouse dengan episode pertama dan secara premis begitu menarik perhatian. Itulah yang membuat penonton berani maraton menontonnya. Penulisan naskah di sini yang bikin saya kasih 10 jempol teru...

CaKar #1 (A silent message behind the window)

CaKar (Celotehan Karya) Judul: A silent message behind the window Oleh: Aghra Aghasa A. Resensi: HSA Permulaan dari sebuah celotehan karya dari teman-teman sekte ini merupakan hasil daur ulang pikiran masing-masing kawan atas realitas obyektif, kemudian dibaurkan atas realitas subyektif nyang resensi. Ini mah sotoy-sotoyan aja kita, tanpa ada maksud jelek, nawaitunya baik ini beneran, deh, gak bohong! Mari mulai... Melihat sebuah sketsa lukisan dari goresan ini membawa saya ke dalam suatu fenomena kekalahan kebudayaan yang tergores oleh zaman. Saya melihat di sini sebagai pengintip (voyouer?). Bagaimana ruangan terdapat vinyet di dalamnya seolah-olah saya sebagai penikmat sedang menikmati pemandangan atas kesedihan seseorang dengan benda-benda yang tergeletak berantakan. Dari jauh terlihat nuansa putus asa. Terlihat juga di luar terdapat bangunan-bangunan berupa ragam jenis (plural)/tengah kota?/heterogen? Di luar jendela terutama ada lambang simbol bangunan, seperti salah satu keperca...

Ingatan Filsafat: Insan Kamil (Iqbal)

Ingatan Filsafat: Insan Kamil (Iqbal) Oleh: FF Saya menemukan definisi cinta (Isyq) dalam catatan ego Muhammad Iqbal. Di mana ia yang mampu meresap segala atensi realitas terhadap egonya yang sifatnya tumbuh/evolutif. Berbanding terbalik dengan istilah Sawal. Di mana manusia tersebut meleburkan egonya dan bergabung pada kerumunan masyarakat sehingga menghancurkan becoming  atau jati diri yang asli.  Biasanya orang sawal merupakan tipe yang maunya diatur dan tidak percaya diri, istilahnya keterbalikan atas ego yang dijelaskan Iqbal. Ego sendiri menurut Iqbal merupakan kesendirian yang esensial, sebuah pancaran semesta subyektif yang melingkar pada diri sendiri. Ego biasanya bersifat kreatif dan menyendiri, ia tidak bisa ditiru orang lain. Sedih karena apa hanya kita yang pahami, bahagia karena apa ya kita yang pahami. Pada Iqbal ada istilah Khudi dan Khuda. Khudi ialah ego yang tanpa batas bersifat potensi-potensi untuk terus mengembangkan khuda (ego kecil), dan khuda (ego besa...