Siang terang berderang menitip luka pada sore hari,
Dikala hujan membumikan aroma patrichor,
Berdiri aku di pelantaran singgah ini, menitip pesan pada langit,
Karena langit dan bumi terpisah, hanya hujan yang menjembatani mereka.
Pesan gejolak jiwa dari hati manusia,
Angkara dan pilu menyelimuti batinnya,
Sebab ia lalai dari patuhnya sholat,
Sekarang ia berkawan angin,
Menunggu ajal menghampiri,
Tapi pesan langit tetap mengiringi, karena taubat adalah jalan yang pasti
"BAGAIMANA JIKA?" Dari sekian banyak kata, istilah, dan elemen yang membentuk kalimat, makna, rasa, emosi, serta menjadi penghubung dari satu semesta (diri) ke semesta lain. Mungkin aku tak bisa merangkai kalimat yang lebih baik dari apa yang sedang terpikirkan, tapi kuharap kamu mengerti. Ada satu kata magis, menjelma udara malam yang menemani banyak aktivitas dengan tatapan kosong: termenung. Frasa ini menyelinap tanpa permisi ke setiap khayal, lalu membiarkan kita membangun berbagai skenario di dalamnya. Frasa "Bagaimana Jika?" selalu banyak kuterakan dalam pola komunikasi dan khayalku, seolah menggantikan tubuh ini melayang di antara jutaan bintang-bintang. Bagi orang kota, "Bagaimana Jika?" adalah sihir pengusir waktu—saat di dalam kereta, atau sekadar menuntaskan hajat di kamar mandi. Bagi para peneliti, frasa ini menjadi kelinci percobaan dalam menemukan tabir dunia yang belum terungkap, yang kemudian mereka abadikan dalam nama penemuan-...
Comments
Post a Comment