November kini berembun,
Berembun bersama malam menyentuh daku,
Cinta pernah bertutur kasihnya berada pada batas tepian malam dan pagi,
Namun tak menyentuh daku malam ini,
Ibarat lautan, daku bagai nelayan yang terombang ambing oleh kesunyian dalam hiruk pikuk godaan ombak selatan
Sayangku,
Memang biru ini tak bisa bertahan dengan jinggamu,
Makan daku bulan!!
Makan, telanlah aku mentah-mentah,
Karena daku perjaka malam yang tak pernah bisa hidup di lautan..
Dan perlahan menghilang,
Dan menguasai kenangan
"BAGAIMANA JIKA?" Dari sekian banyak kata, istilah, dan elemen yang membentuk kalimat, makna, rasa, emosi, serta menjadi penghubung dari satu semesta (diri) ke semesta lain. Mungkin aku tak bisa merangkai kalimat yang lebih baik dari apa yang sedang terpikirkan, tapi kuharap kamu mengerti. Ada satu kata magis, menjelma udara malam yang menemani banyak aktivitas dengan tatapan kosong: termenung. Frasa ini menyelinap tanpa permisi ke setiap khayal, lalu membiarkan kita membangun berbagai skenario di dalamnya. Frasa "Bagaimana Jika?" selalu banyak kuterakan dalam pola komunikasi dan khayalku, seolah menggantikan tubuh ini melayang di antara jutaan bintang-bintang. Bagi orang kota, "Bagaimana Jika?" adalah sihir pengusir waktu—saat di dalam kereta, atau sekadar menuntaskan hajat di kamar mandi. Bagi para peneliti, frasa ini menjadi kelinci percobaan dalam menemukan tabir dunia yang belum terungkap, yang kemudian mereka abadikan dalam nama penemuan-...
Comments
Post a Comment