Tak elok hari ini, mataram
Hembusan nafas dunia ini menyejukkan,
Tapi tak elok pada ku kali ini,
Aku seperti kenari kecil terusir dalam bayangan,
Menghempaskan sayap dalam sangkar,
Sungguh tak elok,
Temanku di luar sana, bermain dengan ciutan manisnya,
Senyum tak terlontarkan dari bibir ini,
Mungkin sungkan karena kemarin,
Mereka menjebakku..
Aku tidak seperti itu,
Hanya seperti ini,
Seperti burung kenari,
Tinggal di dalam sangkar.
Maaf diriku sedang tak lagi mau tersenyum, apalagi menyapa?
Aku malu
Karena diriku seperti kenari..
"BAGAIMANA JIKA?" Dari sekian banyak kata, istilah, dan elemen yang membentuk kalimat, makna, rasa, emosi, serta menjadi penghubung dari satu semesta (diri) ke semesta lain. Mungkin aku tak bisa merangkai kalimat yang lebih baik dari apa yang sedang terpikirkan, tapi kuharap kamu mengerti. Ada satu kata magis, menjelma udara malam yang menemani banyak aktivitas dengan tatapan kosong: termenung. Frasa ini menyelinap tanpa permisi ke setiap khayal, lalu membiarkan kita membangun berbagai skenario di dalamnya. Frasa "Bagaimana Jika?" selalu banyak kuterakan dalam pola komunikasi dan khayalku, seolah menggantikan tubuh ini melayang di antara jutaan bintang-bintang. Bagi orang kota, "Bagaimana Jika?" adalah sihir pengusir waktu—saat di dalam kereta, atau sekadar menuntaskan hajat di kamar mandi. Bagi para peneliti, frasa ini menjadi kelinci percobaan dalam menemukan tabir dunia yang belum terungkap, yang kemudian mereka abadikan dalam nama penemuan-...
Comments
Post a Comment