Boleh hari ini langit tersenyum senang? jika Tuhan mengijinkan. Benalu tersingkap dalam lara pada siang ini. Aku yang berkehendak, meski Tuhan tidak mengijinkan. Bedebah macam apa ini?!
Mewah-mewah mereka kenakan, tak semewah apa yang mereka perbuat. Macam apa aku ini? Hanya pendiam yang hanya bisa mencuri pandang?!
Tuhan Maha Kaya, mengapa aku harus merasa kaya? Apa yang aku punya?
Aku hanya hidup hanya dalam bayang, bayang yang semu, mati, dan menjadi tulang berulang.
Aku rindu kasihmu ya Allah, Tuhanku..
"BAGAIMANA JIKA?" Dari sekian banyak kata, istilah, dan elemen yang membentuk kalimat, makna, rasa, emosi, serta menjadi penghubung dari satu semesta (diri) ke semesta lain. Mungkin aku tak bisa merangkai kalimat yang lebih baik dari apa yang sedang terpikirkan, tapi kuharap kamu mengerti. Ada satu kata magis, menjelma udara malam yang menemani banyak aktivitas dengan tatapan kosong: termenung. Frasa ini menyelinap tanpa permisi ke setiap khayal, lalu membiarkan kita membangun berbagai skenario di dalamnya. Frasa "Bagaimana Jika?" selalu banyak kuterakan dalam pola komunikasi dan khayalku, seolah menggantikan tubuh ini melayang di antara jutaan bintang-bintang. Bagi orang kota, "Bagaimana Jika?" adalah sihir pengusir waktu—saat di dalam kereta, atau sekadar menuntaskan hajat di kamar mandi. Bagi para peneliti, frasa ini menjadi kelinci percobaan dalam menemukan tabir dunia yang belum terungkap, yang kemudian mereka abadikan dalam nama penemuan-...
Comments
Post a Comment