Skip to main content

Posts

Ingatan Filsafat: Apologies Socrates

Ingatan Filsafat: Apologies Socrates Oleh FF Akhirnya comeback lagi. Setelah melampauinya waktu hiatus cukup lama, saya upayakan untuk mengingat kembali apa yang sudah dipelajari. Sekarang mari ingat kembali. Serial kali ini membahas tentang permintaan maaf atau apologise. Apologise pertama ini membahas tentang pidato filsuf Socrates sebelum dihukum mati minum racun.   Socrates sendiri dihukum minun racun karena berbeda dari sofis lain yang mementingkan, jabatan, harta, dan kekuasaan di eranya. Ia dihukum karena tidak menghormati Tuhan dan mengajarkan filsafat kepada orang-orang yang dilarang di masanya, seperti anak muda dll. Feodalisme sangat kental pada zaman itu, ilmu dan pengetahuan dikhususkan untuk orang-orang darah biru, kelas bangsawan dll. Isi dalam kajian ini membedah pidato terakhir Socrates kepada masyarakat Athena di dala persidangan. Beliau membicarakan bagaimana para bangsawan telah lupa tentang kebijaksanaan filsuf itu sendiri. Seolah-olah kepintar...

Bahasa Imaji Sepi

Perihal episode hidup antara dilupakan dan melupakan. Mengapa semuanya menjadi abu-abu? Tidak disadari umur beranjak dari waktu ke waktu. Menanam peluk dari bahagia sampai luka. Tidak ada oase yang jelas, saat saya berlayar dalam dua gelombang pasang surut hidup. Kebahagiaan dan kesedihan. Apakah pencapaian cinta hanyalah cerita telenovela, atau rangkuman imaji sehingga saya tahu endingnya berakhir percuma? Hal yang kusangka meramu rindu, cinta, kasih sayang tanpa tuan, merangkum kesepian tanpa bayang. Apakah harus kubahasakan semuanya adalah kutukan? Di mana kemanusiaan dan cinta adalah sebuah peluh tanpa tanda tanya. Saya kedinginan di tengah pulau harapan, diterjang angin risau, dan lapar pada kasih sayang.  Untuk sekarang, saya hanya hidup dari gerimis tetesan kesedihan yang kusimpul kebahagiaan. Cita-cita semakin berlari menjauh, arah hidup hanya mematok takdir. Saya, hanya menjangkau cinta yang tak pernah cukup, dan masih berlayar meski perlahan tenggelam.

Risalah Rembulan Kala di Manggarai: Kejujuran

Pada akhirnya tiba perpisahan yang tiada terduga. Dalam alunan musik yang masih melantunkan Yiruma, masih pekat bayangmu dalam jiwa. Tiada arti dalam mengarungi samudera sendirian, lalu kau adalah yacht yang hadir di tengah pulau kosong. Mengenalmu benar-benar sebuah anugerah yang aku tahu seumur hidupku. Engkau membuat merasakan kasih sayang Tuhan dalam bentuk lain. Sekilas bola matamu yang indah tak pernah aku lupakan seumur hidup. Bila ini adalah elegi maka akan kugubah sedramatis mungkin.  Sudah terhitung beberapa hari kau tak nampak di indera atau sepenggal pesan maya. Apa kabar dirimu? Bagaimana kabar adikmu yang akan dioperasi hari itu? Apakah engkau sudah lebih tenang dan fokus pada dirinya seorang?  Tentang kejujuran, di sini alunan hidup tak tentu, mengairi segala angin yang berhembus dan aku masih saja dibuncah kegelisahan. Sedih yang tak nampak pada perpisahan lalu berhutang air mata pada tiap malamnya. Di sini Mars, begitu dingin dan sepi hanya ad...

Kado Sederhana dari Pria Sederhana

Bersama surat ini aku titipkan rindu dari sebuah kata dan kalimat yang mungkin sudah menjadi sampah di dunia ini. Bagaimana mungkin sebuah kata-kata bisa merasuk ke dalam kupingmu lalu mencoba mengacak-ngacak pendirianmu? Tapi dengan surat ini bukan hanya saja kata-kata dari sekian ribu kata-kata di setiap surat yang ditulis oleh manusia di bumi ini. Melainkan ada sebuah kisah yang akan aku ceritakan padamu, kisah di mana kamu mungkin belum pernah mendengarkan dari manapun. Karena semesta menjadi saksi bagiku atas semua kisah yang pernah aku jalani disini, tepat di persawahan Mredo. Hari itu dimana langit sudah menunggu dan menyambut malam sebab mega-mega jingga kemilauan serta barisan-barisan awan membentuk satu-kesatuan dengan gagahnya. Aku termangu melamun sebab merasa sia-sia tentang apa-apa yang langit berikan sore itu. Suara burung cicit mengalun merdu ditelingaku, udara mendesis merambat telinga, hingga bau tanah karena patrichor bekas hujan siang tadi. Begitu sia-si...

Ingatan Film: Sri Asih (2022)

Ingatan Film: Sri Asih (2022) By. UPI Sri Asih merupakan salah satu film penantian saya semenjak Gundala. Di tengah Superhero movie yang sudah mulai kehabisan bensin, saya rasa Sri Asih mulai menanjak untuk mencoba menandingi sekelas Black Widow. Singkatnya, film ini masih memiliki premis mistisme tentang Nusantara. Itu keren sih, sebenarnya memang negeri ini punya cukup banyak bensin/modal daripada Marvel atau pun DC untuk membangkitkan Superhero. Cerita dan budaya oral yang kental di masa lalu dalam membagikan pengetahuan atau informasi benar-benar bikin film Sri Asih memiliki motivasi yang solid.  Penceritaan lebih baik dari Gundala, meski naskahnya terasa solid tapi mampu diterima tanpa basa basi mengenalkan para tokoh serta motivasinya. Eksposisi yang apik. Pun juga dari editing dan CGI yang sangat mampu berkontribusi pada film menjadi lebih baik tidak hanya sekadar tempelan. Hanya saja.. Karena solidnya naskah maka sutradara mesti mengemas pembangunan karakter sec...

Ingatan Buku: PIAS

Ingatan Buku: PIAS Oleh Aris Setyawan Menyelami tulisan Aris seperti mengembalikan memoar masa kuliah dulu. Bergema idealis yang berapi api, tapi benarlah ideologi masa kuliah dulu. Mestinya kita tetap poles menjadi hal yang lebih baik. Bercerita tentang musik secara filosofis lalu merembet pada semua medium seni dalam melihat sudut pandang kehidupan. Jelas, buku ini semacam pengingat atau tamparan bagi saya yang terlena dengan pandangan material-realistis. Sehingga mampu menutup mata atau lupa pada pandangan kenapa saya bisa berdiri saat ini atau sampai sekarang. Terima kasih telah dipinjami @ buku yang keren. 

Ingatan Buku: Aksara Amananunna

Ingatan Buku: Aksara Amananunna Oleh Rio Johan Buku ini berisi antologi cerpen yang bisa dibilang kisahnya seperti simbol covernya. Pohon kering yang ditinggal siluet burung merpati pergi ke arah kanan atas.  Mungkin ini cerita yang absurd, fantasi, di luar nalar, menjijikan dan brengsek. Tapi percayalah pada setiap katastrop (penyelesaian) cerita begitu terasa realis, penuh makna moral dan sangat reflektif pada kehidupan kita sebagai manusia. Mungkin ada imbuhan "oh","ah","nah" yang terucap ketika selesai membaca cerpen tiap cerpen. Menguliti sisi gelap kita sebagai individu sebagai manusia, seakan ditelanjangi. Bahwa sesungguhnya, kita mungkin lebih parah dari isi ceritanya bahkan kalo tidak kenal yang namanya aib, serta suara hati. Rekomen lah bagi suka yang cerita aneh-aneh. Terimakasih juga uda pinjemin buku ini untuk membuktikan keanehan yang punyanya @christ hahaha.. Terimakasih.