Skip to main content

Tentang Aku, Gie dan Rumi



Aku ingat, ketika Rumi berucap tentang arti cinta.
Seketika ku lupa aku merasa salah dalam mencintai Tuhanku.
“Cinta adalah anugerah dari Tuhan yang diberikan kepada setiap manusia agar mereka bisa tahu bagaimana cara mencintai Tuhannya”
Saya sadar, melati yang telah lama saya sirami bukanlah kesalahan saat saya mencintai putihnya.
Perlahan ada rasa benci yang menelisik setiap tubuh ini.
Mengapa bunga tersebut tidak seharum layaknya dongeng seribu satu malam?
Saya pernah bertemu Soe Hok Gie, dan bertanya tentang apa itu cinta?
“Cinta murni haruslah dibuang ke keranjang sampah”  ucapnya.
Dia tidak percaya dengan cinta sejati, menurutnya cinta adalah nafsu.
Saya akhirnya menemukan seseorang yang sepemikiran.
Kemudian, saya tidak menyirami bunga itu kembali.
Kultinya menjadi kusam, batangnya lemah, harumnya perlahan pudar.
Setega itu saya, esoknya kutemukan ia kembali putih dalam keadaan segar nan harum, batangnya pun tegak menantang.
Hujan deras semalam membuatnya mekar sendirian.
Saya kembali pada Soe Hok Gie dan bertanya,
Ternyata dia belum selesai berucap, cinta murni itu ada, akuinya. Bodoh sekali dia!!!
Lanjutnya, Cinta murni itu memang ada dan dia merasakannya pada Maria, teman kuliahnya.
Dia bercerita pada saya, sangat naif memang untuk menyangkal cinta murni.
“Aku ada rasa peduli dengannya, dan aku yakin ini bukan nafsu.” Akuinya.
Saat itu saya berusaha untuk merawat dan menyirami bunga melati kesayangan.
Sampai aku tahu bunga memang harum aromanya, meski tak pernah kenal siapa tuan pecintanya.


2016

Comments

Popular posts from this blog

Review Buku: Sejarah Dunia yang Disembunyikan (Jonathan Black)

Review Buku: Sejarah Dunia yang Disembunyikan (Jonathan Black) Oleh: HSA Setelah satu bulan akhirnya selesai juga buku tebal ini yang menyamakan rekor oleh bacaan sebelumnya (Sejarah Tuhan/Karen Armstrong). Banyak situasi unik tentang buku yang saya bawa ini jika diketahui oleh teman-teman. Yup tidak lain tidak bukan karena sampul buku ini menggambarkan simbol-simbol "segitiga mata satu", terkenal dengan cerita konspirasinya. Banyak kerabat yang mengernyitkan dahi, atau menampilkan wajah keanehan terhadap buku yang saya baca ini. Saya tidak heran, sebab sebelumnya saya juga memiliki pandangan yang sama, "wah ini buku konspirasi besar sekali!!". Kalau dibilang betul sekali, bagi seseorang yang alur bacanya sudah mengenal simbol-simbol ini, pasti landasan empirisnya berpacu pada konspirasi dunia. Jika kalian suka itu, bacaan buku ini menjadi kitab besar "konspirasi dunia" MESKI.. setelah anda baca ini, anda mampu tercerahkan dalam beberapa ha...

Bagaimana Jika?

"BAGAIMANA JIKA?" Dari sekian banyak kata, istilah, dan elemen yang membentuk kalimat, makna, rasa, emosi, serta menjadi penghubung dari satu semesta (diri) ke semesta lain. Mungkin aku tak bisa merangkai kalimat yang lebih baik dari apa yang sedang terpikirkan, tapi kuharap kamu mengerti. Ada satu kata magis, menjelma udara malam yang menemani banyak aktivitas dengan tatapan kosong: termenung. Frasa ini menyelinap tanpa permisi ke setiap khayal, lalu membiarkan kita membangun berbagai skenario di dalamnya. Frasa "Bagaimana Jika?" selalu banyak kuterakan dalam pola komunikasi dan khayalku, seolah menggantikan tubuh ini melayang di antara jutaan bintang-bintang. Bagi orang kota, "Bagaimana Jika?" adalah sihir pengusir waktu—saat di dalam kereta, atau sekadar menuntaskan hajat di kamar mandi. Bagi para peneliti, frasa ini menjadi kelinci percobaan dalam menemukan tabir dunia yang belum terungkap, yang kemudian mereka abadikan dalam nama penemuan-...

Ingatan Buku: Childfree and Happy (Victoria)

Ingatan Buku: Childfree and Happy Oleh Victoria Tunggono Di jagat maya sedang trend isu yang masih diperbincangkan pro kontranya di Indonesia. Apalagi di Twitter, banyak hilir mudik opini-opini tentang konsep hidup childfree atau childless. Kenapa bisa ramai diperbincangkan? Karena konsep hidup childfree berupaya untuk hidup sepanjang umur tanpa memiliki anak kandung. Seyogyanya fade kehidupan umum harusnya memiliki anak, tetapi childfree memiliki pendapat lain soal anak. Buku ini membuat saya mengenal lebih dalam secara personal konsep hidup childfree dari kacamata penulis. Uniknya penulis di sini sudah memiliki anak, meski dari pernikahan masa lalunya. Ia meyakini childfree ketika menikah lagi. Satu poin yang pertama saya dengar pertama kali tentang konsep hidup satu ini, Egois. Bagaimana seorang perempuan yang memiliki rahim tidak mau memiliki anak dengan banyak alasan yang menurut saya bisa ditolerir. Seperti, takut badannya berubah, takut anak-anak, malas mengurus anak...