Skip to main content

Posts

Nasib Pria Romantika

Malam ini tiada luas sanubari menabur cinta, Tanganku seirama menggenggam butir-butir pasir kesesakkan, Pada suatu jalan yang lurus ditempah lubang-lubang tak berkesudahan, Aku masih saja menyeret, memaksa, berjalan kaki. Pria romantika balutan kepahitan, Disusur segala jelaga riuh, angin barat menyembiru menunggu badai berjalan di tempat. Saat kasih datang menjelma rindu tak tahu pilu, Maka cinta hanyalah bualan roma-roma kesakitan manusia, Aku masih belum tahu cara tuk mengobati, Pada cinta sejati melihat dirimu sendiri, Apakah ia yang datang dan pergi? Atau ia yang menetap tapi menjauhi? Nasib menjadi pria romantika, Dibawanya keabadian dalam punggung, menjajakannya setiap waktu. Sebab wanita terkasih, hanya memberi keabadian pada ia yang mampu menghadirkan bunga mawar dalam diri. 30.08.2020

Kerinduan Pecinta

Untuk kembali terbawa. Para pecinta meramu rindu pada dini hari. Terbangun dalam lelapnya, sebab tak kuasa bertemu dengan Sang Maha Cinta.  Direbah pertemuan dua mata melalui sajadah. Keledai tak pernah paham bagaimana pecinta tak perlu rupa, Ia hanya butuh dirinya untuk Sang Pecinta. Layaknya Majnun bersama gerombolan serigala bersenandung cinta demi Layla seorang. 25.08.20

Sunyi

Hidup adalah riuh. Menjadi gemuruh di udara dan tak tersisa. Hanya bising tak nampak hanya berbekas asap-asap hitam. Dunia adalah oase di lautan gurun semesta, sejak Tuhan meramu dan mencipta, hanya sunyi yang benar-benar abadi. Sebab semesta adalah lautan sunyi. Selamat menjadi sunyi-sunyi di kehidupan tantra.

Ngaji Filsafat: Semiotika (Charles Pierce)

Ngaji Filsafat: Semiotika (Charles Pierce) Oleh: FF Kebenaran menurut beliau sangat komplek di dunia ini. Tidak bisa dijeniskan pada induksi atau deduksi. Charles membuat kemungkinan Abduksi sebagai sebuah pilihan kebenaran yang pragmatis dan simplicity. Kebenaran pun terbagi dua transendental dan kompleks. Di mana transendental bersifat melekat pada obyek sedangkan complex melalui argumen2 yang nanti akan terbagi kembali. Seorang filsuf dalam tahapannya harus memiliki curiousity yang mendalam. Pada titik doubt ia akan terus bertanya dan mengelola kembali dengan rangkaian pikiriannya sendiri. Kalau sudah bertemu dengan ilmu yang dimaksud itu dinamakan moment of eureka. Seperti "Oalah gitu toh, ah iya akhirnya paham". Itu yang membuat ilmu menjadi lebih nikmat. Tentang semiotika ini akhirnya mempengaruhi dalam telaahnya soal pragmatisme kebenaran. Saya sebut di sini ada trikometri simbol. Qualisign, Sigsign, dan Legisign. Representamen, obyek dan intrepretan kurang lebih sama ...

Dunia yang tak sama

Pada malam ku letakkan segelas kata, Tiap bait-baitnya adalah sepoi nyiur di tepi muara, Saat rasaku tak kembali sama, begitu cepatnya dunia. Sedangku masih terpaku fana, Melihat dunia yang tak lagi sama, Aku kembali meratap pada setiap jejak-jejak kemarin, Tidak ada hal yang menetap, semua berlalu dalam sekejap, Pada saat ini aku masih saja terdiam, Oase diri harus mengembang, meski pasir hisap terus menelan, Apalah waktu kini hanya mengaburkan segala yang ada di depan? Sekarang hanyalah ambisi, dalam kepahitan kepengahan dada. 11.07.20

Burung yang telah pergi

Di atas kepalaku burung-burung berkicau sedangkan diriku menikmati bunyi siul burung berkicau. Pada suatu masa yang sama, burung-burung lekas terbang menuju matahari. Sedang ku tertinggal, masih memumut sisa-sisa kicau dalam gempulan memori. Masihkah cahaya memanggil burung-burung lainnya tuk segera kembali? 21-06-20

Ngaji Filsafat: Semiotika (Ferdinand De Saussure)

Ngaji Filsafat: Semiotika (Ferdinand De Saussure) Oleh: FF Masih dalam ingatan saya mencoba membaca buku ilmu semiotika pada semester awal yang terbilang pada zamannya bacaan berat, tapi rasa penasaran saya akan sebuah makna dalam setiap simbol sangat kencang. Yah, meskipun saya juga pada akhirnya gagal paham juga haha.. Tapi seiring berlalu yang namanya bacaan dan tugas kuliah yang selalu terus-terusan jadi sedikit paham. Ferdinand de Saussure menolak adanya pembahasan soal bahasa budaya dulu pada konteks sekarang. Sebab sudah tidak relevan dan kurang memberikan sumbangsih secara langsung pada budaya saat ini. Bahasa itu bersifat strukturalisme, sebab dalam bahasa itu sifatnya turun temurun, arbiter dan simbolis sesuai obyek realitanya.  Saya iuga baru menyadari bahwa semiotika itu juga ada beragam tipe sesuai dengan kondisi yang ada. Misalnya Semiotika deskriptif seperti layaknya lampu merah, simbol-simbol tersebut ada beserta arti untuk kebutuhan tata tertib lalu lintas. Kemudia...