Skip to main content

Posts

Tak Ada Mawar

Temaram malam mengusik tabir jiwa, Berkhilwat dalam sunyi tentang cinta, Dapatkah ku cumbu satu? Biar kanda rasa seperti adinda, Waktu seperti belati, aku yang mati. Ruang seperti penjara, aku yang merana. Adakah satu mawar saja hinggap di kupingmu? Aku mau satu, benar-benar hanya satu, Karna sekalipun sampai larut senja, tak ada mawar yang mekar di taman cinta kanda. 10-12-17

Elegi kehilangan kata

Bila tak mengenal hari maka tak ku hitung perjumpaan kita. Dimana saling berpandangan tanpa jarak, menguatkan hanya lewat lisan di lorong doa. Bukankah doa mendekatkan? Dari ujung kemalasan aku berandai-andai. Sekiranya kau perupa hujan yang ku sentuh kini, datang dari awan selatan. Akan ku buat sebuah kolam demi memandikan kehidupan dari hirup udara penatnya hidupku. Apakah rindu itu akan hilang? Ku mainkan musik Payung Teduh, dengan segelas kopi sachetan hanya untuk memuaskan manis klise ini. Kopi seharga ribuan rupiah, hanya mengandalkan manis ilusi. Seperti gawai yang kugenggam ini, tidak ubahnya sebuah kopi sachet. Meski dunia berubah begitu maju, tapi tidak dengan rasa rindu. Kita bisa saja bersapa suara atau rupa melalui canggihnya gawai. Tapi rindu membaca itu hanya sebuah ilusi. Ternyata rindu tidak butuh rupa, rindu tidak butuh suara. Rindu butuh yang lebih dekat daripada itu semua. Bagaimana dengan yang sudah lama tidak bersapa? Akankah rindu menjadi bangkai? Adakah masa...

Kotamu Amelia

Ameliaku, basah sudah tanah ini disiram air dari langit, Kotamu berpandang-pandang beton kuanggap taman bunga, Angin barat kian terasa sebab tak ada yang tahu romansa masa muda kita, Mungkin pasukan kuda citra akan tertawa cekikikan dan berlari berputar-putar dihadapmu. Ameliaku, sudah tak berbekas jejaknya tersapu air, Langitnya gelap, bintangnya jatuh ditimbun pasir, Dalam khilwat, kotamu bukan lagi kotaku, Oktober yang menghapus, sawaq menguat, Habislah ritus kata-kata, berpendar menjadi kunang-kunang, Kadang menghias pada malam, siapa tahu ada orang yang menitip sayang. Amelia, hanya bunga mekar musim kemarau. 29.10.17

Tanah kita

Tanah kita basah namun tidak memerah, Ucapan kita menyebar namun tak arif dihilang akal Desir darah pernah tumpah atas nama bangsa Lupakah kita, kini hanyalah sesonggok kerbau yang meracau Ancam mati dalam hidup Takut-takut tidak bisa menghirup harta, Padahal sang Pencipta Maha Pemurah tuhan-tuhan merajai jiwa kerbau Sang kerbau mengharap tuhan Tuhan diregah menjadi daya khayal Hanya hidup jika dalam kesempitan Tanah dilupakan, menjadi beton pelengkap kemewahan. 03.10.17

Kereta Pengganti

Kereta ini mengiringi perjalanan mimpi, Dimana semua berubah menjadi sunyi, Musim terantai terganti, Lelap terkantuk manusia pengharap rahmat, Dikau yang sedih sebab kehilangan setengah hati, Dengarlah banda neira sekali lagi, Karena yang sia sia akan berbuah menjadi makna.. Hilang lah sebuah syair, Perjananan yang menuntun sunyi, Sendiri. 27.09.17

Rumah Puanku

Kaca-kaca rumah ini menyilaukan kerlap kemilau rembulan, Atapmu terpeluk oleh ribuan mawar merona, Sedang dindingnya adalah mata air sisa puan bersedih, Tak ada pintu di dalamnya, menjadi benalu sebab utopia hati selalu menjunjung tinggi, Asmaraku yang malu tiada tertahta, Aku kian meraba pada tatap, merasakan puan dalam rumah kerlap gemerlap, Malam nan rembulan terkasih jadi pahit pudar tenggelam gelap, Gita cinta tetap oasis, Walau hanya fatamorgana 07.09.17

Berkelana ke 7 Semesta

Sebagai pelepas pagi aku berada di tapal batas antara kenyataan dan kefanaan, Dari bibir ku mencipta kata tentang namamu, Tak henti menjadi sebuah ikatan janji, berikrar pada waktu dan ruang, Dari sajadah ku tengok sebuah kilauan emas dari setiap kilauan mentari menyentuh kulitnya, Terhempaslah aku menjadi angin terbawa ke arah matanya, melayang ke tujuh semesta, namun selalu ada namamu.. Dawai merdu terus melagu selagi aku masih di atas sini, hinggap memeluk bintang dan berkelana mencari pelangi di antara bulan, Kau di bawah saja dan teruslah melenggak lenggok puan, Aku bawa kau kelak menjadi merpati nan siap memakan sebagian hati dari pujangga fana. 23.08.17