Skip to main content

Posts

Setangkai Kawan

Kepada setangkai daun rindang, bertahankah kau tertiup lambaian mesra angin? mengokoh menopang untuk kalian terkawan, Percayalah aku, kau dan kalian, kita masih menjadi buih, Lebur melebur menjadi sekumpulan ombak kecil, Itulah kita, kalian tak perlu tahu, Inilah kita, menanti akhir kisah perantauan, Begitulah kita, mengemis kenangan kebodohan Dan aku masih saja mengiris hati untuk tidak berkata-kata 22.06.17

Kepingan-Kepingan Yang Enggan Dilupakan

Kata-kata yang kuucap kini menjadi manis, sebab rasa memoar dahulu tak akan mungkin mengulang. Menjadi sentuhan malam kini, Semakin manis saat angan kembali berangan Menatap ku ditatap purnama, Tak secerah diselimuti bintang, Hembusan demi hembusan adalah arti rindu sebenarnya, Malam ini alunan dan tatapan bisu benda mati menatap seakan mengajak masuk ke dalam rona-rona masa lalu Sepeda mini pink, langkah demi langkah saat pulang sekolah Angkutan hijau dengan nama-nama unik, Dan keping-keping perasaan yang dulu mengalun dan masih singgah mendewasa seperti ini, Akulah sisa-sisa dan masih terduduk manis, Tiada lagi, kini meniada, mendewasa semua sudah mendewasa. Kini hanya ada.. Memori di masa muda 11.05.17

Selubung

Dia adalah selubung dari setiap kata, Saat peranjat kata mulai tercurah dari bibir, Sudah direnggut segala indera untuknya, Kini kefanaan menjadi tabir, Sudah habis kau hisap, Kini ku ikhlasan ketiadaan, Maka terbaring sudah dalam lelap malam ini, Esok lagi, lagi, dan fana lagi. 03.05.17

Jangan Bertanya

Pada rayu-rayu kata kemarin suntuk, sudah saatnya kau tertawa Pada seribu macam manusia Pada resah rasa tidak tentu arah Jangan bertanya, benak risau benalu! Sudah semestinya ku selami dalamnya lumbung cinta dari kelopak matamu Pun sudah kusesali maksud semua celotehan-celotehan tak bersuara Jangan bertanya pula fatamorganaku! Ini hanya selongsong peluru, Untuk tangan, tubuh, jemari, mata, dan tiap hela nafasku Jangan bertanya, tetaplah mengair, mengudara dan meresap Sebab selongsong peluru terus berusaha menembak 30.04.17

Puber Kedua

Jika aku jatuh cinta kembali, Dengan kerut di pipi, jemari sampai dahi, Kau pun seperti mawar lagi yang harum mewangi, Jika aku puber kedua nanti, Kutitipkan langkah dari jarak yang tak mengerti, Ku kan genggam tiap jemarimu, tuk menyambut maut, Hingga nasib jarak dan waktu tak tentu, Danau pun kering kehilangan air sebab nafasnya adalah rindu menyatu, Keriputmu adalah sutraku, Kau cinta pertamaku, tenggelamlah pula dalam puber keduaku. 18.04.17

Hutan Terkasih

Marah, Apa yang terjadi dengan orang-orang diluar sana?! Mereka mengutuk lorong gua hitam pekat tanpa ada secuil matahari merebahkan cahayanya di tiap batu2 bumi ini. Muak, Heihssst, Apa mereka hanya bisa mengolok-olok? Sok kuasa, sok manusia, mentang-mentang pemimpin tapi seperti tidak ada yang mampu dipimpinnya. Mana ada pemimpin menghamba pada materi?! Kau yang buat kau juga yang menyembah. Lucu. Gembira Apa Mereka tidak sadar? Dibalik pekatnya gua ini terdapat hutan indah seperti lukisan di rumah-rumah mereka. Tanaman-tanaman dengan siulan angin asmara, dari pohon-pohon dan tanaman merambat tinggi nan merindangkan. Aduhai, apalagi ada bunga kasih yang wangi dan indah sendirian. Aku yakin dia cantik hanya untukku, dia harum juga untukku. Takut Tapi, apa ini nyata? Hutan dibalik gua yang entah mendapat sinaran surya darimana, hangatnya tidak memanaskan kulit. Jejak kakiku?!! Bagaimana jika orang-orang diluar sana penasaran sama sepertiku? Lalu mereka masuk dan menelanjangi hu...

Untuk Menjadi Kamu

Untuk menjadi kamu, Harus menabur malam dengan seribu semesta, Menjadi awan tepat menghias mata, Mendekap pasir putih yang menjadikannya basah, Berbaur pada ombak, patah karang yang dicumbuinya sudah Tak sulitkah engkau? Menjadi cinta atas gambaran kecintaan-Nya Bersatu memeluk bersama nafasmu, Menjadi bagian tapi terpisah darimu, Kau kecintaanku dari gambaran indah-Nya 07.04.17