Skip to main content

Ingatan Buku: Sebab kita semua gila seks


Ingatan Buku: Sebab kita semua gila seks

Penulis Ester P.


Membaca judul pada sampul buku ini memanglah agak sedikit nakal. Saya harus menutup sebagian covernya jika sedang baca buku ini di area publik. 

Buku ini memang bacaan dewasa tapi tidak stensilan meski di dalamnya penuh dengan bahasa dan gambar "selangkangan" tentu karena bacaan ini khusus 21+, tapi percayalah buku ini sarat dengan makna dan pegangan karena pembahasan tabu.


Buku ini tentang pengalaman sexperience dari penulis dan sekitar penulis. Bagaimana pembahasan gender perempuan yang dirasa lebih banyak dirugikan daripada laki-laki, contohnya ketika wanita banyak tidur dengan laki-laki disebut murahan. Tapi kalau laki-laki disebut perkasa atau pejantan tangguh. Buku ini juga membahas mitos-mitos dalam seks serta pengalaman unik dari sekitar teman penulis. Seperti Seks merupakan pertemuan kudus antara manusia dan Tuhan. Ada juga mitos jorok, biar ga kena penyakit dalam dunia prostitusi harus sering ganti wanita satu wanita saja (di luar nurul). 


Meski pembahasannya selangkangan, tapi di akhir, penutupnya membahas bagaimana resiko seks sembarangan, penyakit dll bahkan buku ini menyarankan SETIA. Agar terhindar dari IMS. Penulis juga membahas cara ONS yang baik serta tips dijauhi oleh Fak Boy. Bagi saya pribadi ini seperti menyalam ke dalam kehidupan lautan. Saya hampir tidak pernah bertemu dengan bentuk sosial dengan pembahasan seks secara kasual dan bisa dibincang bahkan dipraktekan langsung. Atau memang saya kurang main terlalu jauh kali ya hehe...

Terimakasih 

Comments

Popular posts from this blog

Bagaimana Jika?

"BAGAIMANA JIKA?" Dari sekian banyak kata, istilah, dan elemen yang membentuk kalimat, makna, rasa, emosi, serta menjadi penghubung dari satu semesta (diri) ke semesta lain. Mungkin aku tak bisa merangkai kalimat yang lebih baik dari apa yang sedang terpikirkan, tapi kuharap kamu mengerti. Ada satu kata magis, menjelma udara malam yang menemani banyak aktivitas dengan tatapan kosong: termenung. Frasa ini menyelinap tanpa permisi ke setiap khayal, lalu membiarkan kita membangun berbagai skenario di dalamnya. Frasa "Bagaimana Jika?" selalu banyak kuterakan dalam pola komunikasi dan khayalku, seolah menggantikan tubuh ini melayang di antara jutaan bintang-bintang. Bagi orang kota, "Bagaimana Jika?" adalah sihir pengusir waktu—saat di dalam kereta, atau sekadar menuntaskan hajat di kamar mandi. Bagi para peneliti, frasa ini menjadi kelinci percobaan dalam menemukan tabir dunia yang belum terungkap, yang kemudian mereka abadikan dalam nama penemuan-...

Ingatan Buku: Psikologi Uang (Housel)

Ingatan Buku: Psikologi Uang (Saduran FF) Oleh: Morgan Housel Di dunia ini penggerak kehidupan aktivitas msnusia tak lepas dari uang. Uang menjadi pondasi segala lini kehidupan bahkan sampai sela sela kehidupan rumah tangga. Uang mungkin menjadi "Agama" baru pada dunia post-mo ini. Uang bisa menjadi nilai kelas pada manusia-manusia, bisa sebagai kadar menilai pria dan wanita. Sangat sensitif, bisa merubah perilaku, bisa mempengaruhi kondisi hati. Tapi perihal mengelola uang? Beda lagi. Mau secerdas apapun teori tentang mengelola uang, tidak ada hubungan dengan perilaku mengelolanya. Zaman sekarang kepintaran tidak bisa dinilai akan kebajikan alias tingkah laku manusia. Ngelmu iku kelakone kanthi laku, kalau kata filosofi Jawa, di mana ilmu seharusnya diirungi dengan perilakunya. Namun, kini mencari ilmu harus melesat tahu tanpa harus mengilhami. Ekonomi industri menjadi medan pacunya. Jadi teori dan konsep ideap tentang kelola uang akibat perilaku jadi tidak bisa ...

Ingatan Buku: Childfree and Happy (Victoria)

Ingatan Buku: Childfree and Happy Oleh Victoria Tunggono Di jagat maya sedang trend isu yang masih diperbincangkan pro kontranya di Indonesia. Apalagi di Twitter, banyak hilir mudik opini-opini tentang konsep hidup childfree atau childless. Kenapa bisa ramai diperbincangkan? Karena konsep hidup childfree berupaya untuk hidup sepanjang umur tanpa memiliki anak kandung. Seyogyanya fade kehidupan umum harusnya memiliki anak, tetapi childfree memiliki pendapat lain soal anak. Buku ini membuat saya mengenal lebih dalam secara personal konsep hidup childfree dari kacamata penulis. Uniknya penulis di sini sudah memiliki anak, meski dari pernikahan masa lalunya. Ia meyakini childfree ketika menikah lagi. Satu poin yang pertama saya dengar pertama kali tentang konsep hidup satu ini, Egois. Bagaimana seorang perempuan yang memiliki rahim tidak mau memiliki anak dengan banyak alasan yang menurut saya bisa ditolerir. Seperti, takut badannya berubah, takut anak-anak, malas mengurus anak...