Di waktu ini semua kian mengabur,
detik, menit jam berlalu begitu lucu,
ada yang mengibar diri dengan semangkuk sereal manis,
ada yang berziarah ke lembah luka hingga ia meringis,
di sana ada pula purnama malam mewarnai gelap,
eloknya ia menghitam
bintang jalang pergi melintang,
ia menyayang, tapi mengabur pada kesan,
hingga perlahan pagi menjelang,
menghilang rupanya,
hingga yang tersayang,
enggan merangkul putihnya,
karena pagi menjelang,
hanya senyum sebagai bingkisannya.
"BAGAIMANA JIKA?" Dari sekian banyak kata, istilah, dan elemen yang membentuk kalimat, makna, rasa, emosi, serta menjadi penghubung dari satu semesta (diri) ke semesta lain. Mungkin aku tak bisa merangkai kalimat yang lebih baik dari apa yang sedang terpikirkan, tapi kuharap kamu mengerti. Ada satu kata magis, menjelma udara malam yang menemani banyak aktivitas dengan tatapan kosong: termenung. Frasa ini menyelinap tanpa permisi ke setiap khayal, lalu membiarkan kita membangun berbagai skenario di dalamnya. Frasa "Bagaimana Jika?" selalu banyak kuterakan dalam pola komunikasi dan khayalku, seolah menggantikan tubuh ini melayang di antara jutaan bintang-bintang. Bagi orang kota, "Bagaimana Jika?" adalah sihir pengusir waktu—saat di dalam kereta, atau sekadar menuntaskan hajat di kamar mandi. Bagi para peneliti, frasa ini menjadi kelinci percobaan dalam menemukan tabir dunia yang belum terungkap, yang kemudian mereka abadikan dalam nama penemuan-...
Comments
Post a Comment