Skip to main content

Posts

Kotamu Amelia

Ameliaku, basah sudah tanah ini disiram air dari langit, Kotamu berpandang-pandang beton kuanggap taman bunga, Angin barat kian terasa sebab tak ada yang tahu romansa masa muda kita, Mungkin pasukan kuda citra akan tertawa cekikikan dan berlari berputar-putar dihadapmu. Ameliaku, sudah tak berbekas jejaknya tersapu air, Langitnya gelap, bintangnya jatuh ditimbun pasir, Dalam khilwat, kotamu bukan lagi kotaku, Oktober yang menghapus, sawaq menguat, Habislah ritus kata-kata, berpendar menjadi kunang-kunang, Kadang menghias pada malam, siapa tahu ada orang yang menitip sayang. Amelia, hanya bunga mekar musim kemarau. 29.10.17

Tanah kita

Tanah kita basah namun tidak memerah, Ucapan kita menyebar namun tak arif dihilang akal Desir darah pernah tumpah atas nama bangsa Lupakah kita, kini hanyalah sesonggok kerbau yang meracau Ancam mati dalam hidup Takut-takut tidak bisa menghirup harta, Padahal sang Pencipta Maha Pemurah tuhan-tuhan merajai jiwa kerbau Sang kerbau mengharap tuhan Tuhan diregah menjadi daya khayal Hanya hidup jika dalam kesempitan Tanah dilupakan, menjadi beton pelengkap kemewahan. 03.10.17

Kereta Pengganti

Kereta ini mengiringi perjalanan mimpi, Dimana semua berubah menjadi sunyi, Musim terantai terganti, Lelap terkantuk manusia pengharap rahmat, Dikau yang sedih sebab kehilangan setengah hati, Dengarlah banda neira sekali lagi, Karena yang sia sia akan berbuah menjadi makna.. Hilang lah sebuah syair, Perjananan yang menuntun sunyi, Sendiri. 27.09.17

Rumah Puanku

Kaca-kaca rumah ini menyilaukan kerlap kemilau rembulan, Atapmu terpeluk oleh ribuan mawar merona, Sedang dindingnya adalah mata air sisa puan bersedih, Tak ada pintu di dalamnya, menjadi benalu sebab utopia hati selalu menjunjung tinggi, Asmaraku yang malu tiada tertahta, Aku kian meraba pada tatap, merasakan puan dalam rumah kerlap gemerlap, Malam nan rembulan terkasih jadi pahit pudar tenggelam gelap, Gita cinta tetap oasis, Walau hanya fatamorgana 07.09.17

Berkelana ke 7 Semesta

Sebagai pelepas pagi aku berada di tapal batas antara kenyataan dan kefanaan, Dari bibir ku mencipta kata tentang namamu, Tak henti menjadi sebuah ikatan janji, berikrar pada waktu dan ruang, Dari sajadah ku tengok sebuah kilauan emas dari setiap kilauan mentari menyentuh kulitnya, Terhempaslah aku menjadi angin terbawa ke arah matanya, melayang ke tujuh semesta, namun selalu ada namamu.. Dawai merdu terus melagu selagi aku masih di atas sini, hinggap memeluk bintang dan berkelana mencari pelangi di antara bulan, Kau di bawah saja dan teruslah melenggak lenggok puan, Aku bawa kau kelak menjadi merpati nan siap memakan sebagian hati dari pujangga fana. 23.08.17

Musim Dalam Candu

Sejak lelap menunggu, Mataku tak lelah mengejamkan, tak kenal waktu, Pedih mengudara, saat simpul senyummu menusuk tepat dalam ulu, Apalagi bola matamu sudah seperti candu, Apakah ini musuhku, meski ku tahu ini perjalanan rindu.. 22.08.17

Manusia?

Sudah lelapkah kau menjadi candu? Mengiba pada malam ini, ku dihempas oleh kesemuan, Pahitnya langkah kaki menitip rindu pekat yang mulai luntur, Meski jalan tak tahu arah, Hinggap terjerumus pada malam jalang, Aku meragai manusia, Entah esok? 19.08.2016