Skip to main content

Posts

Kereta Pengganti

Kereta ini mengiringi perjalanan mimpi, Dimana semua berubah menjadi sunyi, Musim terantai terganti, Lelap terkantuk manusia pengharap rahmat, Dikau yang sedih sebab kehilangan setengah hati, Dengarlah banda neira sekali lagi, Karena yang sia sia akan berbuah menjadi makna.. Hilang lah sebuah syair, Perjananan yang menuntun sunyi, Sendiri. 27.09.17

Rumah Puanku

Kaca-kaca rumah ini menyilaukan kerlap kemilau rembulan, Atapmu terpeluk oleh ribuan mawar merona, Sedang dindingnya adalah mata air sisa puan bersedih, Tak ada pintu di dalamnya, menjadi benalu sebab utopia hati selalu menjunjung tinggi, Asmaraku yang malu tiada tertahta, Aku kian meraba pada tatap, merasakan puan dalam rumah kerlap gemerlap, Malam nan rembulan terkasih jadi pahit pudar tenggelam gelap, Gita cinta tetap oasis, Walau hanya fatamorgana 07.09.17

Berkelana ke 7 Semesta

Sebagai pelepas pagi aku berada di tapal batas antara kenyataan dan kefanaan, Dari bibir ku mencipta kata tentang namamu, Tak henti menjadi sebuah ikatan janji, berikrar pada waktu dan ruang, Dari sajadah ku tengok sebuah kilauan emas dari setiap kilauan mentari menyentuh kulitnya, Terhempaslah aku menjadi angin terbawa ke arah matanya, melayang ke tujuh semesta, namun selalu ada namamu.. Dawai merdu terus melagu selagi aku masih di atas sini, hinggap memeluk bintang dan berkelana mencari pelangi di antara bulan, Kau di bawah saja dan teruslah melenggak lenggok puan, Aku bawa kau kelak menjadi merpati nan siap memakan sebagian hati dari pujangga fana. 23.08.17

Musim Dalam Candu

Sejak lelap menunggu, Mataku tak lelah mengejamkan, tak kenal waktu, Pedih mengudara, saat simpul senyummu menusuk tepat dalam ulu, Apalagi bola matamu sudah seperti candu, Apakah ini musuhku, meski ku tahu ini perjalanan rindu.. 22.08.17

Manusia?

Sudah lelapkah kau menjadi candu? Mengiba pada malam ini, ku dihempas oleh kesemuan, Pahitnya langkah kaki menitip rindu pekat yang mulai luntur, Meski jalan tak tahu arah, Hinggap terjerumus pada malam jalang, Aku meragai manusia, Entah esok? 19.08.2016

Selamat Pagi, Tenang

terburu lelah mata terpejam, mencium pekat teramat sesak, hanya kata menyambut rasa yang hilang, semoga rasa yang telah hambar bermuara oasis, selama sayang tak pernah membanggakan, selamat pagi tenang, 16.08.17

Saya dan Jakarta II

Dari cerita kemarin saya sempat merasa putus asa untuk tinggal lama di kota ini. Tugas kuliah memaksa saya untuk tetap bertahan beberapa bulan kedepan. Saya sudah acap kali bosan dengan suasana macet di sini yang tak tentu waktu dan tempat. Saat saya berkendara motor di jalanan sudah tidak asing dengan klakson yang berdering dimana-mana, padahal jalanan macet, tapi semua orang seperti dikejar setan. Buru-buru ke tempat kerjaan dan melupakan orang sekitar, toh mugkin orang sekitarpun tidak memikirkan satu sama lain juga.  Banyak “binatang” di jalanan jika kita menyenggolnya tanpa sengaja maupun sengaja. Angkot yang berhenti di tengah jalan padahal ada rambu dilarang stop, dan parahnya lagi ada salah satu aparat tidak jauh dari situ hanya mengayun-ngayunkan tangan, hmm saya berpikir positif memang sedang memperbolehkan angkot mangkal. Ah, kembali lagi saya rasa memang kota ini bukan untuk merasakan romantismenya, tapi hanya untuk dikeruk nilai-nilai materialnya. Baru saj...